Momentum Cinta dari Sang Pemilik Cinta

 

Hijrah adalah perpidahan dari jalan maksiat menuju pintu taubat, dari ego diri menuju ketulusan, dari kebencian menuju cinta kasih, larilah dari murkanya menuju ridha- Nya. “Dengan hati yang tunduk, air mata mengalir dan nafsu terkendali. Dengan itulah seharusnya kau jelang (menghadap) Ramadhanmu.” (Habib Ali Al-jufri).

Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan mulia, bulan agung, penuh ampunan. Dalam artian Segala ibadah yang dilakukan akan mendapatkan ganjaran kebaikan bagi orang yang melakukannya. Oleh karena sebab itu, banyak orang berbondong-bondong melakukan berbagai kebaikan, entah itu dengan memperbanyak melakukan pendekatan terhadap tuhan ataupun memeperbanyak kebaikan terhadap sesama manusia.

Ramadhan juga merupakan sebuah bulan di mana kita sebagai manusia dapat melakukan perbaikan diri. Tentunya perbaikan diri yang diharapkan adalah sebuah perbaikan diri  menuju ke arah yang positif dan sebisa mungkin untuk meninggalkan berbagai hal yang cenderung negatif. Semua manusia tentu pasti memiliki berbagai keburukan dan kekurangan dalam dirinya. Terkadang sebagai manusia kita lupa bahwa kita juga tak luput akan kekurangan. Ramadhan seolah menjadi pengingat dan alarm terhadap kita bahwa kita harus menengok dan masuk jauh kembali ke dalam relung-relung diri kita untuk dapat melihat dan merasakan apakah selama ini diri kita sudah dalam jalan kebenaran atau justru telah melesat jauh dari kebenaran yang sudah ditetapkan oleh Sang Kuasa.

Dipertemukan dengan Ramadhan adalah sebuah kesempatan bersimpuh di pintunya, mengetuk-ngetuk rahmat sebulan penuh, jika bersungguh-sungguh engkau akan dibukakan di pintunya, jadi jadikan Ramadhan bulan cinta mengetuk cinta sang pemilik cinta, menjadikan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri, perbaikan hati dan pikiran perbaikan segala hal buruk menuju hal baik.

Sungguh alangkah indahnya mereka itu yang baru puasa satu hari saja telah ditetapkan bebas neraka, dipandang dengan cinta, dipakaikan pakaian takwa. Gencarkan hati untuk selalu semangat dan ikhlas memperbanyak amal kebaikan di bulan Ramadhan ini.

Maka ya allah...

Maafkan jika selama ini, sujud, rukuk dalam sholat kami masih hanya gerakan.

Belum merasakan kekhusukan dan ketundukan.

Puasa kami hanya penahanan haus dan lapar,

Belum menahan nafsu dan keinginan.

Namun jika engkau hanya berkenan menerima

Yang baik dari ibadah hambah,

Kepada siapa sholat dan puasa kami akan dipersembahkan?

Tunggulah aku ramadhan, jangan dulu bergegas, belum banyak kucatatkan hal membanggakanku di hadapan tuhan. 

Oleh: @nays nhaya


Posting Komentar

0 Komentar