Boneka Sistem


      Aku masih ingat, beberapa tahun lalu aku hanyalah santri kecil di Gang Nurani. Usiaku masih sangat muda, mungkin terlalu hijau, untuk mengkritisi apa pun yang terjadi di sekitarku. Segala aturan, segala sistem, aku jalani begitu saja. Aku hanyalah pemeran dari naskah yang ditulis orang lain. Bahkan juga belum terlalu sadar dengan apa yang aku perankan.

Namun, di Gang Nurani pula benih itu pertama kali ditanam. Kala itu aku masih kelas dua MTs ketika suatu malam yang merupakan titik awal kesadaran pada diriku tumbuh tatkala, Bung Bhuceng begitulah ia dipanggil, sebuah julukan akrab yang melekat padanya menghampiri lalu menawari ku untuk mengikuti Organisasi Cangkruk Diskusi. Sebuah Organisasi yang mengajarkan para anggotannya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap litersai seperti membaca buku juga berdiskusi. Dengan suara yang mantap ia berkata,

“Rantau, aku lihat kamu ini kalau berbicara cukup vokal. Logikamu juga tajam, hanya saja apa yang kamu ucapkan masih kurang berbobot. Mungkin karena kamu kurang punya referensi dari buku-buku. Kalau kamu mau, ikutlah dengan kami.”

Kata-katanya menusuk tapi jujur. Ia benar, aku memang sering berdiskusi kecil soal kejadian di sekitar pondok, tapi debat tanpa dasar hanya berakhir kosong. Sayangnya, malam itu aku belum langsung mengiyakan, namun juga tidak membiarkan perkataan itu lewat begitu saja.

Hingga suatu hari, pondok menggelar acara Harlah. Perpustakaan pun juga membuat event sementara, buku-buku dibawa keluar dari gedung, dipajang rapi di halaman wilayah Nurani. Malam itu halaman ramai, lampu-lampu menyala, suara santri bercampur dengan bau kertas buku yang terbuka di udara.

Aku berdiri cukup lama di depan deretan buku itu. Judul-judulnya memanggil, seakan menantangku untuk menyelami dunia baru. Disisi lain terdapat forum diskusi kecil yang ternyata mereka adalah Bung Bhuceng beserta teman-temannya yang juga meramaikan iven perpustakaan itu, Di situlah akhirnya aku memutuskan bergabung. Aku ingin Bung Bhuceng dan kawan-kawan membimbingku, menuntunku agar benar-benar mencintai literasi.

Ketika aku pindah ke Gang Fajar, bara itu makin menyala. Buku-buku membuat mataku lebih awas, membuatku berani mengkritisi. Dan ternyata, di Gang Fajar aku menemukan banyak yang terasa janggal.

Sistem yang belum sempat kujalani hingga tuntas, tiba-tiba diganti dengan sistem baru. Sosialisasi demi sosialisasi digelar, seolah kami ini kertas kosong yang bisa dihapus dan ditulis ulang sesuka hati.

Awalnya aku mencoba berbaik sangka, mungkin ini tanda keseriusan ustadz dan pengurus dalam mendidik kami. Namun lama-lama aku sadar, ada jarak yang lebar antara mereka dengan kami. Mereka mengubah tanpa merasakan. Kami dipaksa memainkan naskah yang mereka tulis, sementara tangan mereka tetap terlipat di depan dada.

Aku ingat seorang teman bernama Hilmi. Ia makin tertinggal, makin enggan mengikuti kegiatan. Suatu malam aku bertanya, “Kenapa, Hil?”

Ia tersenyum hambar.

“Aku sudah malas, Rantau. Dulu aku hampir menyelesaikan target program itu. Tapi sebelum selesai, tiba-tiba mereka turunkan aku ke program bawah. Semua yang kucapai seolah dihapus. Mereka buat aturan baru, dan aku harus mengulang dari awal. Kau tahu rasanya? Seperti dipermainkan.”

Kata-katanya menancap dalam. Diskusi dengan para senior membuatku makin yakin: kesalahan bukan hanya di pihak pengurus, tapi juga di pihak kami. Setiap kali sosialisasi digelar, kami hanya diam. Padahal sosialisasi sejatinya ruang untuk bersuara. Diam kami adalah tanda tunduk, sekaligus tanda kalah.

Sampai suatu ketika, sebuah sosialisasi baru kembali digelar. Hampir saja sistem yang sedang kujalani dihapus lagi. Aku muak. Jika aku diam, aku hanyalah boneka bisu.

Aku pun memberanikan diri bicara. Kata-kataku mengalir, kukritisi aturan itu, kutanyakan kejelasannya. Namun seketika, seorang pengurus menyela dengan nada tajam,

“Kalau Rantau nggak setuju, ya khusus Rantau tidak usah ikut.”

Nada itu menusuk. Seperti diusir dari panggung yang seharusnya juga milikku. Namun tak kusangka, seorang pengurus lain yang lebih paham akhirnya turun tangan. Perdebatan mereda, dan sistem itu urung diubah. Mungkin suaraku tak sepenuhnya didengar, tapi setidaknya aku tahu: diam bukan lagi pilihan.

Malam itu aku kembali ke kamar. Temaram lampu membuat bayangan menari di dinding. Aku teringat pada buku-buku, pada Bung Bhuceng, pada diskusi dengan senior-senior, dan pada Hilmi yang pernah mengeluh lelah dengan sistem yang berubah-ubah.

Aku tersenyum kecil. Mungkin pengurus belum sepenuhnya sadar. Mungkin suara kami terlalu lirih. Tapi aku tahu satu hal: ada cara lain untuk berbicara, cara lain untuk menggugah. Melalui teater. Melalui puisi. Melalui tulisan seperti ini.

Kami akan tetap “meneror” mereka bukan dengan teriakan, tapi dengan karya. Karena ada saatnya boneka pun bisa hidup, lalu menulis naskahnya sendiri.

Oleh : @Muhammad Masyarulah

Posting Komentar

0 Komentar