8 Persentator Mengisi Panel Sesi 3 dalam Acara Muktamar ke-2 Dema Ma’hd Aly Nurul Jadid

 

Nurul Jadid- Rabu (22/01/25) panel paper sesi 3 acara Muktamar ke-2 belangsung di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, mulai sekitar jam 09:00 WIB-selesai. Dalam panel kali ini diisi dengan 8 persentator, dengan rincian 6 persentator putra dan 2 persentator putri. Kali ini panitia membagi persentator dalam 3 kelompok. Pertama dimoderatori oleh Ustadz Syauqi Hidayatullah, kedua dimoderatori oleh Ustadz Mustain Romli, dan ketiga dimoderatori oleh Ustadzah Kholilah. Semua moderator ini adalah musyrif dan musyrifah yang mengajar di Ma’had Aly Nurul Jadid.

               Dalam acara ini semua peserta sangat antusias mengikuti jalannya diskusi, mulai dari persentator pertama sampai yang terakhir. Diantara persentator kali ini ada Muhammad Zaki Faizul Umam dari Ma’had Aly At- Tarmasi, Muhammad Ali Idrus dari Ma’had Aly Miftahul Huda, Faiq Julia Iqna’a dari Ma’had Aly Nurul Jadid, M. Bahauddin Najih dari Ma’had Aly Iqna’ Ath- Tholibin PP. Al- Anwar 1 Sarang, Isnandar dari Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, Thoha Abil Qasim dari Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Nursakinah Rangkuti dan Ummi Sumirat dari Ma’had Aly Kebon Jambu.

               Perlu diketahui dalam persentator kali ini ada perubahan jadwal, seperti halnya, Nursakinah Rangkuti yang asalnya berada disesi 2, dipindah pada sesi 3, juga karena berhalangannya Carissa Raudhatul ‘Aisy dari Ma’had Aly Madarijul Ulum Bandar Lampung.

               Tidak hanya itu, dalam sesi komentator, dimana Bapak Dr. Ahmad Syahidah, salah satu reviwers meminta sesi komentator didahulukan,  “kenapa reviwers pertama memberi komentar lebih dahulu sebelum diskusi panel sesi 3 selesai, dikarenakan beliau ada halangan. “ terang Faizul Mufid selaku Notulen dalam acara panel.

               Reviwers pertama dalam komentarnya menyampaikan 20 paper terpilih menjadi titik harapan dari hasil pemikiran mahasantri yang  telah didiskusikan, menjadi kontribusi ide mahasantri terhadap masyarakat dan melahirkan tindakan nyata, “Saya berharap apa yang saya sampaikan semoga menjadi titik harapan,” seperti halnya dalam menanggapi tentang persentator yang membahas sistem negara yang menurutnya tidak baik katanya, bukan sistemnya yang di rubah, tapi bagaimana kita menjalani sistem itu,” kemudian beliau menambahkan, “sistem demokrasi adalah sama buruknya dengan yang lain, tapi itu adalah sistem yang terbaik dari yang lain.” Jelasnya, sebelum mengakhiri komentarnya.

               Semua persentator dalam diskusi panel sesi 3 ini membawa tema masing-masing, diantaranya; Merajut Fiqih Perdaban: Kontribusi Mahasantri Ma’had Aly dalam Diskursus Keislaman Kontemporer, Eksistensi Santri untuk Mengubah Sistem Negara Melalui Pengaplikasian Ilmu Fiqih Secara Universal dalam Mengatasi Problematika Masyarakat, Relevansi Paradigma Ijtihad Hukum Islam Imam Maliki di Indonesia, dan lainnya.

               Dalam mengomentari paper, persentator ke 2, yaitu  Ustadz Ahamad Husen Fahasbu, M. Ag. memberikan masukan bahwa paper yang sudah dibuat harus ada tindak lanjutnya, beliau mengucapkan, “Puncak dari perkataan itu adalah perilaku.” Beliau juga menyampaikan bahwa sempat mendapat pertanyaan dati Lora Imdad (panggilan akrabnya, redd), salah satu penyaji dalam seminar tema Muktamar ke 2. ‘Apa tindak lanjut dari 20 paper terpilih ini?’ kata saya semuanya akan diproseding, dan akan di cetak menjadi buku. Makanya saya ketika membaca paper ini sangat serius.” Paparnya. (udn)

Posting Komentar

0 Komentar