Sepatah Kata untuk Lillah


Fajar memmijar,

Fajar menyingsing perlahan, menyingkap tirai malam dengan cahaya lembut yang jatuh seperti embun di kelopak bunga. Langit yang tadinya kelabu mulai semburat jingga, melukis cakrawala dengan sapuan warna yang tenang dan syahdu. Udara pagi menggigilkan kulit namun menenangkan hati. Di halaman kecil surau tua yang dinaungi pohon jambu dan rindangnya kenangan, kami duduk melingkar dalam keheningan yang khusyuk. Suara kokok ayam bersahutan, berpadu dengan desir angin dan suara alam yang baru terbangun. Di tengah lingkaran, guru kami duduk bersila, wajahnya berseri disinari cahaya mentari pertama. Kami, anak-anak kampung dengan baju seadanya dan mushaf lusuh di tangan, satu persatu membaca ayat-ayat suci, suara kami menyatu seperti aliran sungai kecil yang menyusuri batu-batu iman. Inilah pagi kami-pagi yang bukan sekadar waktu, tapi permulaan yang penuh makna.

Dingin pagi tak menyurutkan semangat kami. Dalam suasana syahdu, setiap ayat yang kami baca menjadi cahaya yang perlahan-lahan menerangi gelapnya kebodohan dalam diri. Namun bukan hanya huruf-huruf yang kami pelajari, melainkan kehidupan yang dibisikkan di antara baris-baris suci itu. 

Guru kami, Ustaz Rahim, bukan hanya mengajarkan tajwid dan makhraj, tetapi juga menanamkan nilai dan membentuk jiwa. Di balik jubahnya yang sederhana dan sorban yang usang, tersembunyi lautan ilmu dan luka masa lalu. Tak ada yang tahu, kecuali mungkin angin pagi yang setia menemani beliau sejak lama. Ada rahasia dalam sorot matanya saat melihat kami. Seolah beliau melihat bayangan masa mudanya, yang tak seindah kami hari ini. Setiap pagi terasa seperti awal kehidupan baru. 

Satu persatu ayat kami lantunkan, menyusuri makna di balik kalimat-kalimat suci yang tak pernah habis hikmahnya. Suara kami mengalun pelan, seolah berharap malaikat pun berhenti sejenak untuk mendengar. Di sela lantunan itu, guru kami—Ustaz Rahim, tiba-tiba menghentikan bacaan, bukan karena kami salah, melainkan untuk menyelipkan mutiara hikmah. 

“Hidup ini seperti ayat,” ucapnya suatu pagi, “butuh dibaca perlahan, direnungi dalam-dalam, dan diamalkan dengan cinta.” Kata-katanya bukan sekadar petuah, melainkan lentera yang menyala dalam dada kami, membimbing arah kala gelap mulai menyusup dari berbagai penjuru kehidupan. 

Beliau mengingatkan kami bahwa; pagi adalah waktu terbaik untuk menanamkan niat suci. “Apa yang kalian lakukan saat ini akan menjadi buah di masa depan,” katanya. Maka setiap malam, sebelum tidur, kami menata hati. Esok bukan sekadar mengaji. Esok adalah perjuangan kecil kami dalam menggapai ridha Ilahi, walau hanya dengan satu ayat yang dibaca dengan hati yang hidup, itu lebih berarti.

Seusai mengaji, kami sering terdiam menatap alam, seolah alam adalah tempat renungan untuk membuka jalan pikiran agar kita bersyukur kepada Tuhan. Langit membentang tanpa tiang, bagai jubah raksasa yang meneduhkan jiwa. Udara pagi merasuk ke dada, membawa kesegaran yang tak bisa dibeli di pasar mana pun. Kicau burung bersahutan dari dahan ke dahan, menyampaikan pujian kepada Sang Pencipta, dengan bahasa yang tak tertulis namun terasa. Dalam hening itulah, kami menghafal ayat, merenungi makna, berdzikir dalam diam. Ada yang meneteskan air mata, bukan karena sedih, melainkan karena disentuh oleh keindahan kasih-Nya yang tak bersyarat. Kami mulai paham, bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi dirasa; bahwa iman bukan hanya diyakini, tapi dihidupi. Tuhan memang Maha Romantismenghadirkan fajar, alam yang bernuansa manis. dan mengirimkan murobbi untuk membisikkan cinta dalam bentuk paling halus.

 oleh Fata Da Silva

Posting Komentar

0 Komentar