Langit malam itu sangat petang, seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai di antara bintang yang berkilauan. Di ruang utama Pesantren Al-Firdaus, para santri dan santriwati kelas akhir berkumpul dalam kajian tafsir mingguan yang istimewa. Untuk pertama kalinya, mereka duduk dalam satu ruangan besar, dengan tabir tebal yang membelah ruang, memisahkan pandangan, tapi tidak suara.Hari itu, kitab yang dikaji adalah Ahkam al-Qur'an karya Ibn al-'Arabi, dimulai dari ayat-ayat muamalah. Ustaz pembimbing mempersilakan santri membacakan dan mengulas tafsir ayat secara bergiliran.
“Silakan, Abi. Lanjutkan pembacaan dan beri penjelasan singkat tentang ayat jual beli dalam QS. Al-Baqarah: 275,” ujar sang ustaz.
Saad berdiri. Suaranya tenang, nyaris tanpa gemetar, meski dalam dirinya ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Baru saja ia hendak memulai, terdengar derik halus dari balik tirai, suara kertas dibuka dan pena disiapkan. Ia tak bisa melihat siapa, namun entah mengapa, ia merasa ada seseorang yang akan menyimak penjelasannya dengan sepenuh perhatian.
Dengan mantap, Abi membaca ayat lalu menguraikan tafsirnya, menggunakan pendekatan fiqih mazhab Hanafi serta pandangan minor dari mazhab Syafi'i. Ulasannya runtut, penuh rujukan, dan sistematis.
Beberapa saat setelah ia duduk, dari balik tabir, terdengar suara santriwati mengangkat tangan.
“Ustaz, saya ingin memberikan tanggapan,” ucap suara itu lembut namun tegas.
Seketika perhatian semua tertuju ke arah tabir. Termasuk perhatian Abi… dan hatinya.
Namanya Ummi. Santriwati cemerlang yang sering disebut dalam buletin pondok karena tulisan-tulisannya yang tajam. Tapi baru hari itu, Saad mendengar suaranya. Dan suara itu, bukan hanya sopan, tapi menyiratkan ketegasan dan kejernihan berpikir.
Ummi menanggapi dengan mengutip tafsir al-Qurthubi, menekankan perbedaan antara jual beli yang sah dan praktik riba secara kontekstual. Ia tidak menyanggah Abi, tapi menambahkan sudut pandang baru dengan bahasa yang santun dan analisis mendalam.
Abi mendengarkan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, penjelasan seorang perempuan membuatnya tidak hanya berpikir… tetapi juga merasa. Ia tak tahu kenapa. Mungkin karena kecermatan Sholihah membedakan antara hukum dan hikmah. Atau mungkin karena dalam setiap katanya, ada kesungguhan yang tak bisa dibuat-buat.
Usai kajian, Saad kembali ke kamarnya. Tapi hatinya masih tertinggal di ruang kajian. Ia membuka kembali ayat yang tadi dibahas, lalu mencoba menafsirkannya ulang, kali ini dari sudut pandang Ummi.
Hari-hari berikutnya, Abi selalu datang lebih awal ke kajian tafsir. Ia berharap Ummi akan kembali menyampaikan pandangannya. Mereka tak pernah saling bicara, apalagi bersua. Tapi di antara ayat-ayat Al-Qur'an, mereka mulai saling mengenal. Bukan lewat mata, melainkan melalui pemahaman.
Sampai suatu hari, dalam kajian ayat tentang pernikahan dan nafkah, Ummi menutup pemaparannya dengan kalimat yang tak biasa:
“Allah tidak hanya menyatukan dua insan dalam akad, tapi juga dalam visi. Dan visi itu, jika didasari ilmu, akan menjadi rumah yang kokoh.”
Ustaz tersenyum, para santri mencatat. Namun Abi tahu, kalimat itu seperti ayat tak tertulis, mengetuk pintu hatinya secara halus namun kuat.
Malam itu, Abi menulis sebuah surat. Ia tak menyatakan cinta, tak pula menyebut nama. Ia hanya menulis:
“Jika Allah mengizinkan, aku ingin menjadi teman belajarmu. Bukan hanya di pesantren ini, tapi juga dalam perjalanan panjang memahami Kalam-Nya.”
Surat itu tak pernah dikirim. Ia lipat rapi, lalu selipkan di lembar terakhir kitab tafsirnya menanti waktu yang tepat, bukan sekadar untuk berkata, tapi untuk menyampaikan dengan keberanian dan restu.
Karena cinta di balik tabir tidak tumbuh dari pandangan mata, melainkan dari pandangan jiwa yang bertemu di jalan ilmu dan ketundukan kepada-Nya.
Penulis : Muhammad Miftakhul Ulum
0 Komentar