Termasuk Perjuangan Adalah Menjaga Tradisi


Oleh : Kamaruddin Khaliq

    Berbicara seorang santri, seakan kita sedang berbicara dengan diri sendiri, santri yang selamanya akan menjadi seorang santri, tidak ada katanya mantan santri, karena santri adalah identitas abadi yang melekat semenjak dia pergi dari rumahnya untuk nyantri di pondok pesantren dengan niat mengaji kepada seorang yang sering kita sebut dengan kiai. Sekalipun nyantrinya itu hanya sebentar, tidak lebih dari satu hari, kemudian dia boyong, dia tetap dikatakan santri, sampai wafatnya pun identitas santri tetap melekat pada dirinya.

Hal ini pernah disampaikan oleh salah satu putra dari pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, yaitu Alm. KH Abdul Haq Zaini yang tertulis dalam sebuah majalah Alfikr terbitan No.21 Rajab- Dzulhijjah 1433 H. bahwa santri adalah identitas abadi.

Ketika kita mengingat sejarah kemerdekaan NKRI, tentu kemerdekaannya tidak luput dari perjuangan seorang santri. Sekalipun santri tidak segagah pasukan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di masa jabatan Presiden H. M. Soeharto, tidak seperti TNI (Tentara Nasional Indonesia) apalagi dengan Polri, nilai juangnya tetap menghiasi Negara Indonesia sampai sekarang ini, sampai-sampai jasa seorang santri diabadikan oleh negara dengan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober dimana hari itu bertepatan dengan Resolusi NU tentang jihad fi sabilillah. 

Perjuangan ini akan terus berlanjut sampai kapanpun, dulu di zaman penjajahan kolonial dan jepang, santri berjuang dengan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, berbeda dengan sekarang santri harus berjuang mempertahankan bumi pertiwi ini dari penjajahan moral, dulu penjajahan moral yang secara terang terangan, seperti kerja paksa, penganiayaan, pemerkosaan, pembantaian dan lainnya. Sekarang penjajahan lebih halus lagi, baik disadari atau tidak, kita sedang dijajah moral melalui media sosial, yang menghidangkan berbagai kesenangan bersyahwat, pertikaian yang saling menyalahkan, hingga timbul perpecahan. 

Dari itu semua membuat kita lengah dengan sesuatu yang seharusnya kita pikirkan dan perjuangkan, kita lupa dengan identitas kita sendiri, lupa dengan keadaan sekitar yang butu dengan perhatian, perjuangan dan pemikiran kita. Sepertihalnya memperhatikan kelestarian tradisi yang ada di pesantren kita ini, karena tradisi adalah amanah leluhur  yang harus kita jaga, didalam tradisi inilah tersimpan moral luhur bangsa kita, terbentuknya moral santri.

    Berbicara moral, santri terpandang sangat tinggi dimata masyarakat, dengan tradisi pesantren, dia dididik untuk menjadi orang yang memiliki akhlak terpuji sampai-sampai niat pertama untuk nyantri adalah niat mengaji dan membina akhlakul karimah, mengaji inilah salah satu tradisi utama pesantren yang harus kita jaga, jangan sampai sebab asyiknya kita bermedia kita terlena, lupa dengan identitas kita sebagai seorang santri yang memikul kewajiban melanggengkan tradisi-tradisi pesantren seperti halnya mengaji.

Buat apa mengaji?

    Terkadang kita bertanya, buat apa mengaji, padahal intinya santri itu berakhlakul karimah? Jika dipikir memang intinya dari mengaji adalah untuk melatih diri memiliki budi pekerti yang luhur, tapi untuk berakhlak ini perlu mengetahui tata caranya, yang mana hal itu bisa kita peroleh dengan mengaji. Dalam pembentukan karakter santri yang memilki moral luhur, mengaji adalah tahapan awal yang harus dilakukan santri, setelah mengaji kita harus mengulang kembali mareti yang telah disampaikan oleh guru, ustadz atau kiai. Kita kaji, muthola'ah kembali, renungi dan tanamkan dalam hati untuk menerapkan dalam kehidupan sehari hari.

Tahapan selanjutnya adalah menyampaikan kepada orang lain dengan sebaik-baik penyampaian, menyampaikan dengan teladan penuh kesopanan, tidak cuma menyuruh, tapi harus dibarengi dengan contoh.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa perjuangan santri akan terus berlanjut dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tugas kita sekarang bagaimana menjaga tradisi-tradisi itu agar tetap terjaga dan tetap menjadi rutinitas kita sehari-hari  karena dari tradisi inilah terbentuknya generasi pejuang yang utuh dan tangguh, siap menghadapi perkembangan yang semakin maju ini. Tanamkan di hati kita, kalau bukan kita yang menjaga tradisi-tradisi pesantren, terus siapa lagi? Mari Menyambung juang untuk merengkuh masa depan. 

Posting Komentar

0 Komentar