Bolehkah Saya Baca Kitab Sendiri Lalu Saya Ajarkan ? (Sebuah Relasi Antara Guru dan Murid)

    Sekedar pengantar, tulisan ini merupakan refleksi yang dibuat untuk berbagi pengalaman jadi harap dibaca sampai selesai agar tidak salah paham, jangan langsung dibaca dari akhir karna didalamnya terdapat hal yang menarik. Berusahalah fokus wahai pembaca yang budiman.

إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 27)

…….. وأما مجرد الاخذ من الكتب من غير أخذ عمن ذكر فلا يجوز، لقوله (ص): إنما العلم بالتعلم

Artinya : Adapun sekedar mengambil dari kitab-kitab tanpa mengambil dari yang disebutkan, maka tidak boleh, sesuai dengan sabdanya : Ilmu itu didapat dari belajar.

Sengaja saya tidak mencantumkan secara keseluruhan keterangan yang terdapat dalam kitab tersebut, agar tuan atau nyonya bisa merujuknya sendiri. Hal itu bisa jadi telaah kritis yang kemudian menarik untuk dikaji bersama, silahkan berpendapat ! 

Hubungan antara guru dan murid merupakan unsur penting dalam keberhasilan proses pendidikan. Namun realitas sosial menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu baik. Kasus konflik antara guru dan murid sering muncul kembali, baik karena kurangnya rasa hormat murid terhadap guru, maupun karena sikap guru yang dinilai kurang memahami kebutuhan murid, bukan begitu tuan?  Di era digital saat ini, tantangan semakin kompleks dengan dampak semakin kaburnya batasan-batasan media sosial. Sebuah survei di Indonesia menemukan bahwa banyak guru yang merasa tidak dihargai oleh muridnya, sementara murid percaya bahwa guru tidak memahami kebutuhan emosional mereka. Fenomena ini mencerminkan pentingnya memperhatikan hubungan kedua belah pihak. Masalah utama yang menghambat keharmonisan ini antara lain kurangnya rasa hormat murid terhadap guru, buruknya komunikasi, kurangnya empati kedua belah pihak, dan dampak negatif teknologi. Banyak murid yang sendirian menganggap guru sebagai penyampai materi tanpa menganggap mereka sebagai otoritas yang harus dihormati. 

Di sisi lain, seringkali guru terlalu fokus pada “kurikulum” tanpa memperhatikan kondisi emosi murid. Media sosial juga memperburuk situasi dengan melemahkan nilai-nilai tradisional seperti rasa hormat terhadap guru. Akibatnya proses pembelajaran menjadi kurang menyenangkan, atau bahkan menimbulkan ketegangan dalam lingkungan pendidikan. Untuk mengatasi masalah ini, perlu langkah strategis yang mengedepankan nilai-nilai sopan santun dan komunikasi yang baik. 

Guru hendaknya menanamkan perilaku baik pada diri murid, seperti yang diajarkan dalam kitab Ta'līm al-Muta'allim karya Al-Zarnuji yang menekankan pentingnya rasa hormat murid terhadap guru atas nikmat ilmunya. Selain itu peningkatan kemampuan komunikasi guru juga menjadi solusi penting agar mereka dapat memahami kebutuhan murid dan menyampaikan harapannya secara efektif. Pendekatan personal menjadi salah satu cara guru mengenal setiap murid secara mendalam, ini akan membantu mengembangkan empati.

 Integrasi teknologi yang bijaksana juga diperlukan untuk mendukung pembelajaran tanpa mengganggu hubungan harmonis antara guru dan murid. Ta'līm al-Muta'allim menekankan bahwa hubungan saling menghormati antara guru dan murid merupakan syarat keberkahan ilmu. Buku Pedagogi Kritis karya Paulo Freire juga menegaskan bahwa dialog yang saling menghormati antara pendidik dan murid adalah kunci pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, membangun hubungan baik antara guru dan murid tidak hanya sekedar menghormati tradisi, tetapi juga menjadi landasan untuk melahirkan generasi yang berkarakter dan sukses. 

  Guru dan murid bertanggung jawab untuk membina hubungan yang positif. Keharmonisan dapat terjalin melalui penggunaan budi pekerti yang baik, komunikasi yang efektif, empati, dan penggunaan teknologi yang bijaksana. Oleh karena itu, pendidikan dapat berfungsi sebagai cara untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan menumbuhkan karakter untuk mencapai generasi  yang baik. Ikatan antara murid dan guru merupakan elemen penting dari keberhasilan pendidikan jangka panjang.


penulis : Oleh : Faiq Julia Iqna'a

Posting Komentar

0 Komentar