11 tahun berjualan pentol, Buk Mud Tak Pernah Sepi Pembeli

    


   Warung Perrengan merupakan sebutan untuk sebuah warung sederhana yang dimiliki oleh Buk Mud, seorang wanita paruh baya yang akrab disapa "bibi" oleh para santri. Nama Perrengan berasal dari kondisi warung tersebut di masa lalu, yang dikelilingi oleh banyak bambu. Dalam bahasa setempat, "perrengan" berarti bambuan, sehingga warung ini pun dikenal dengan nama unik tersebut.

    Warung ini sangat terkenal di kalangan santri karena menjual pentol sejenis bakso tanpa kuah yang memiliki cita rasa khas. Selain rasanya yang enak, pentol buatan bibi juga dikenal murah. Terdapat dua jenis pentol yang dijual: pentol kecil yang dihargai 3 biji seharga Rp500, dan pentol besar seharga Rp500 per biji.

    Suasana di warung ini pun sangat nyaman, membuatnya menjadi tempat favorit bagi para santri untuk bersantai sambil menonton TV. Para pembeli kebanyakan berasal dari kalangan santri, baik dari Al-Amiri, Al-Latifiyah, Fatimatus Zahro, hingga santri wilayah Zaid bin Tsabit.

    “Pembelinya banyak dari kalangan santri, terutama kalau santri putri yang beli, biasanya mereka beli banyak. Bisa sampai 15 bungkus sekaligus,” Ujar Buk Mud sambil tersenyum.

    Setiap hari, pentol dibuat oleh bibi setelah salat Maghrib. Bahan utamanya adalah tepung yang diolah dengan resep rahasia keluarga. Dalam sehari, bibi bisa menghabiskan hingga tiga panci adonan pentol. Meski sudah berjualan selama lebih dari 11 tahun, bibi tidak mengetahui secara pasti berapa besar laba yang ia peroleh, karena seluruh uang hasil penjualan pentol tercampur dengan uang dari dagangan lainnya seperti nasi, es, dan mie.

    Warung Perrengan bukan sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi ruang interaksi dan kebersamaan para santri. Sederhana namun penuh makna, itulah yang menjadikan warung Buk Mud begitu istimewa di hati para santri.

Posting Komentar

0 Komentar