Langkah yang berhenti, hati yang bertani

 


Judul : Pada Akhirnya

Karya : @rabiya


Berdamai dengan semua yang terjadi…

Membunuh hati demi sebuah jati diri…

Berpikir bahwa dunia berpihak pada diri ini…

Nyatanya, itu hanya rayuan halus penakluk hati…

Bukan tidak menerima..

Tapi perlu berdamai dari semunya..

Lewat pena yang menjadi kisah belaka…

Seakan akan tangisan menjadi sesuatu yang sia sia…


Bertahan untuk sebuah masa depan..

Dikala semuanya beruasaha untuk meneteskan…

Disaat itulah semuanya terlepaskan….

Sebagai bentuk sebuah pelampiasan…

Dengan Jati diri yang tak kunjung datang…

Sebagai penenang disaat semuanya hilang..

Dengan ukiran kasih pena yang usang…



..........................................................................................................................................


Judul: Petani
Karya: @Angkasa

aku ingin menjadi petani
yang menanam benih surga
pada pekarangan tubuhmu.

saat yang kutanam
sudah berumur seminggu,
akan kuberikan pupuk
yang terbuat dari peluh
yang telah difermentasi lama,
yang akan membuatmu mekar
hingga kau rasakan
betapa nikmatnya
bahagia yang subur.

bahagiamu yang tumbuh
takkan pernah kupanen,
ia hanya kubiarkan saja tumbuh,
tumbuh, dan tumbuh selalu.




Tafsur Puisi

Di dunia yang serba cepat dan bising ini, kita sering lupa bagaimana rasanya berdamai. Nah, puisi pertama dari Rabiyah, “Pada Akhirnya”, seperti sebuah bisikan pelan di tengah kebisingan itu. Ia tidak meledak-ledak, tapi lirih dan jujur. Lihatlah baris pertamanya:
"Berdamailah dengan semua yang terjadi..."

Baris ini seperti nafas pertama setelah tenggelam. Ini bukan puisi tentang menerima begitu saja, melainkan tentang proses proses panjang, mungkin menyakitkan, menuju ikhlas. Lalu muncul kalimat yang mencengangkan...
"Membumbuh hati demi sebuah jati diri..."
Di sinilah muncul konflik utama antara perasaan dan pencarian makna diri. Dalam teori sastra, ini erat kaitannya dengan internal conflict atau konflik batin. Biasanya muncul dalam puisi-puisi eksistensial di mana si penulis bergulat dengan pertanyaan “Siapa aku?” dan “Kenapa aku begini?”

Rabiyah mengajak kita menyusuri liku-liku hati yang pernah percaya bahwa dunia berpihak, tapi ternyata, itu cuma “rayuan halus penakluk hati”. Uh, putus sekaligus pahit, ya? Tapi begitulah, puisi ini bukan sekadar curahan hati. Ia adalah catatan perjalanan menuju kesadaran bahwa menerima kenyataan itu bukan kelemahan, melainkan kekuatan.

Di titik ini, seolah kita sedang duduk di senja hari, dengan hati yang panjang dan melelehlah. Lalu datang puisi @Aksara, membawa puisi “Petani”, seperti angin segar di ladang kering.

“menjadi jadi
tumbuhan menjelad di petani
sampai hari pulang nanti”

Dari awal, puisi ini sudah menyiratkan metafora yang kokoh. Dalam sastra, ini disebut dengan majas simbolik. Petani menjadi simbol dari seseorang yang mencintai dunia dengan sederhana tapi dalam. Di sinilah sebuah aktivitas fisik dan spiritual dijadikan cara untuk menyatakan cinta, ketulusan, dan kesetiaan.

Jika puisi Rabiyah bercerita tentang luka dan penerimaan, puisi Aksara adalah tentang penantian. Tentang menanam dengan sabar, seperti petani yang percaya bahwa benih akan tumbuh meskipun hujan tak menentu, memberi pupuk tanpa mengharap panen.

“bahagiamu yang tumbuh
takkan pernah kupanen,”

Kalimat ini menyentil sekali. Di tengah dunia yang transaksional, Aksara justru menghadirkan cinta yang tak menuntut. Ini bukan cinta posesif, tapi cinta yang ingin melihat tumbuhnya kebahagiaan, meski mungkin bukan untuknya.

Dan jika kita tarik benang antara keduanya, seolah kedua puisi ini saling mengisi. Rabiyah menggambarkan dunia batin yang rapuh dan kemudian damai menjadi satu-satunya tempat pembalasan. Di puisi Aksara, ada wujud tidak ada harapan? Di situasi Rabiyah, Aksara memberi bekal agar tetap menanam meski dunia menolak, menjadi tabur-buru, yang tidak merasa miskin jika tidak diberi balasan. Sebuah puisi seperti benih di dalam petak karangan hati.

Ketika dua puisi ini bertemu, seakan kita bisa kita bayangkan lebih. Seseorang yang lelah terhadap dunia, yang sudah memilih proses panjang menuju kedamaian, lalu kemudian dirinya bertemu seseorang yang mencintainya dengan tenang. Seseorang yang tidak menuntut apapun. Sabar. Dalam sabar itulah makna cinta tumbuh, meskipun tidak untukmu.

Maka, pada saat semesta tak menjanjikan apa-apa, dua puisi ini bermuara di tempat yang sama: bahwa kedamaian tidak bisa menunggu harus berubah menjadi baik, tapi jiwa kita yang harus berubah menjadi tanah tempat menumbuhkan benih-benih kesabaran dan cinta.




Posting Komentar

0 Komentar