Mata yang tak Ingin Melihat, Telinga yang Memilih Tuli


Prihal Hidup

@Irvan Alfaridi

Hidupku ada...

pada mata yang terpejam lunak dari nikmat yang ditampakkan

Hidupku ada...

pada telinga yang tuli dari suara-suara gonggongan.

Hidupku ada..

Pada lorong-lorong sunyi yang disinari oleh nasihat hati

Hidupku ada..

Ketika gerbang nestapa runtuh oleh pukulan tekad untuk melangkah

dan Hidupku ada..

Dari sejuta cinta pada dia yang merajut doa.

Hingga akan menjadi sempurna saat keyakinan bersatu padanya


Perjalanan Musyafir

@imam Thobroni

Apakah bahagia itu masih kau tunda di matamu,

sudah berabad-abad kita tempuh 

jalan panjang menuju Padang Arafah.

Dahan kurma dan perasan anggur selalu menanti

di atas hamparan waktu yang tandus dan gersang.

Namamu tetap kuimani 

di atas lauhul Mahfudz sana,

atau hanya tertanam di bawah pusara 

yang dapat kutaburi bunga-bunga.


Sudah 720 langkah, sejauh itu pula aku terdampar.

Perjalanan ini seperti ziarah panjang yang tak dapat ditadabburi.

Aku ibarat pemukul rebana yang kehilangan lafal

syair-syair itu telah membuatku lenyap 

dalam ruang-ruang kerinduan


Tafsir Puisi

Kenapa kalian ingin membaca tulisan ini? apakah kalian ingin singgah di sini karena ingin tahu, atau karena lelah...apapun alasanmu membaca ini, aku ingin bilang,  terima kasih. Karena kalian telah berusaha bertahan hinga sekarang, meski kenyataan sekeras ini. Langsung saja ya.....semoga dua puisi ini bisa menemani hidup kalian.

Pertama dari puisi Irvan Alfaridi yang berjudul “Perihal Hidup.”

“Hidupku ada...

pada mata yang terpejam lunak dari nikmat yang ditampakkan”

Saat membaca ini, seolah Irvan mengajak kita menyadari satu hal bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang bisa dilihat, tapi apa yang dipilih untuk tidak dilihat. Dalam ilmu sastra, bentuk seperti ini disebut anaphora pengulangan frasa di awal baris. Tapi lebih dari sekadar teknik, ini adalah cara Irvan menegaskan ulang, bahwa hidup itu bukan sekadar bangun pagi dan sibuk seharian.

Kadang, justru ketika kita mampu “memejamkan” mata dari segala yang silau, kita mulai benar-benar hidup. Dalam kenyataan, kita sering dikelilingi banyak “nikmat” yang justru menjauhkan kita dari esensi. Popularitas, gaji besar, validasi sosial. Tapi ternyata, hidup yang jernih justru datang saat kita mampu meletakkan semua itu, dan memilih untuk diam. Kemudian.....

“Ketika gerbang nestapa runtuh oleh pukulan tekad untuk melangkah”

Kalau boleh jujur, ini kalimat yang bisa menggambarkan banyak dari kita. Seringkali kita berdiri di hadapan “gerbang nestapa”pintu-pintu duka, trauma, kehilangan. Tapi Irvan, lewat bait ini, ingin mengatakan kalau kamu bisa menghancurkannya. Bukan dengan sihir, bukan juga dengan orang lain. Tapi hanya dengan satu hal yang sederhana dan menakutkan yaitu “melangkah.”Lalu, diakhir dia berkata bahwa...

“Dari sejuta cinta pada dia yang merajut doa.

Hingga akan menjadi sempurna saat keyakinan bersatu padanya”

Siapa “dia” dalam puisi ini? Bisa jadi seorang ibu, kekasih, guru, bahkan Tuhan. Tapi yang pasti, ia adalah sosok yang membuat hidup si “aku” punya arah. Dalam istilah sastra, ini disebut personifikasi transendental penggambaran tokoh spiritual yang mewakili harapan dan cinta tak terbatas. Dan mungkin kita semua punya satu “dia” yang seperti itu dalam hidup kita, “dia” yang menjadi penyemangat dalam hidup kita. Yang keberadaannya akan selalu dirindukan :)

Lalu mari menyeberang ke puisi milik Imam Thobroni: “Perjalanan Musafir.”

Dari judulnya saja sudah terasa kalau ini puisi yang bukan sekadar tentang perjalanan fisik, tapi perjalanan batin.

“Apakah bahagia itu masih kau tunda di matamu,

sudah berabad-abad kita tempuh

jalan panjang menuju Padang Arafah.”

Ini sejenis puisi sufistik, puisi yang sering digunakan oleh para penyair jalan sunyi seperti Rabi’ah Al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi. Dan Penulis, dengan lirihnya, bertanya pada “kau” pada dirinya sendiri kenapa bahagia masih tertahan di mata, bukan di hati?

Dan memang, kita sering menunda bahagia. Menunggu kaya dulu, sukses dulu, dicintai dulu. Tapi Imam menyindir lembut, mungkin bahagia itu tidak hilang, hanya sedang kau tunda. Kemudian yang paling filosofis...

“Namamu tetap kuimani

di atas lauhul Mahfudz sana,

atau hanya tertanam di bawah pusara

yang dapat kutaburi bunga-bunga.”

Ini larik yang menyentuh sekaligus membingungkan. Dalam teori puisi, ini disebut kontras metafisik karena penyandingan antara sesuatu yang sangat tinggi (Lauhul Mahfudz, tempat catatan takdir) dan sesuatu yang sangat rendah (pusara, kuburan). Si aku dalam puisi ini seperti sedang berdialog dengan seseorang yang entah masih hidup, atau sudah tiada. Tapi iman pada nama itu tetap teguh. Ini bukan puisi biasa. Ini semacam doa yang patah, tapi tetap diucapkan.Kemudian diakhir dia berkata bahwa..

“Aku ibarat pemukul rebana yang kehilangan lafal

syair-syair itu telah membuatku lenyap

dalam ruang-ruang kerinduan.”

Inilah puisi yang membungkam. Imam menyamakan dirinya dengan alat musik pemukul rebana yang tak lagi punya lafal untuk dipukul. Dalam pelajaran sastra, ini contoh dari metafora eksistensial, yaitu penggunaan objek untuk menggambarkan krisis jati diri. Kita semua mungkin pernah jadi seperti itu, menjalani rutinitas tanpa makna, ibadah tanpa rasa, cinta tanpa arah.

Dan pada akhirnya, puisi ini bukan sekadar kata-kata, tapi ziarah. Bukan untuk orang mati, tapi untuk kita yang hidup tapi sering lupa hidup.

Allahua’lam......

di tafsir oleh : Luka_Alam




Posting Komentar

2 Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kereennn, trus dikembangkan lagi, sangat menarik untuk dibaca, sukses trus untuk semua Kruu

    BalasHapus