Belakangan ini Wakil Presiden Gibran melempar wacana agar semua sekolah di Indonesia wajib punya pelajaran AI alias kecerdasan buatan. Buat sebagian orang, itu ide keren. Tapi buat santri, terutama yang hidup di pondok pesantren salaf yang tiap hari ngaji Fathul Mu'in, Imrithi, sampai Ta'lim Muta'allim, mungkin langsung refleks mikir: “AI Pakai kitab apa, ya?. Ikut mahdzab siapa, ya?” Gimana kabar kitab kuning yang dari dulu jadi ciri khas pesantren salaf?, bagaimana sanad keilmuannya?
Dalam khazanah Islam, kita diajarkan bahwa ilmu itu luas. Nggak semua ilmu harus langsung soal agama, tapi semuanya harus diarahkan untuk kebaikan. Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengatakan bahwasannya
العُلُومُ مِنْهَا مَا هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ وَمِنْهَا مَا هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ
Ilmu itu ada yang fardhu 'ain dan ada yang fardhu kifayah.
Dalam artian gimana, kita dipesantren Ngaji fiqih, tauhid, dan tasawuf jelas itu adalah fardhu 'ain. Tapi ilmu kayak kedokteran, teknik, astronomi, dan termasuk AI (di era Society 5.0), bisa masuk fardhu kifayah. Artinya kalau nggak ada yang bisa bikin dan mengendalikan AI, umat ini bisa tergilas zaman. Dan kalau itu terjadi, dosa kolektif bisa nempel ke semua karena lalai menjaga maslahat umat. Sama seperti dalam dunia media sosial. Jika santri tidak bisa bersaing dengan tren, dalam artian memberikan konten yang edukatif. maka media sosial hanya akan dikuasai oleh konten-konten negatif yang dapat merusak ummat.
Boleh Canggih, Tapi Tetap Nyantri
Tapi pesantren nggak serta-merta harus nyemplung ke dunia AI begitu saja. Santri harus tetap santri. Sekalipun AI bisa membantu kita dalam belajar, Tapi AI nggak punya sanad. AI nggak ngerti barokahnya Ngaji bandongan (Khataman).
Dalam Ta'lim al-Muta'allim, Syekh Az-Zarnuji menjelaskan tentang semangat dan pengorbanan dalam mencari ilmu. Beliau berkata
مَنْ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى ذُلِّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً، بَقِيَ فِي ذُلِّ الْجَهْلِ أَبَدًا
"Siapa yang tidak sabar menghadapi susahnya belajar, maka ia akan terus dalam kehinaan kebodohan."
Bukan berarti saat zaman memberikan kita kemudahan, kita bisa bermalas-malasan. AI itu mungkin bisa kasih kemudahan. Tapi kalau kita jadi malas, jadi nggak ngaji, jadi nggak duduk bareng kiai, ya itu bukan kemajuan. Itu kemunduran digital. Seperti kata nasehat orang madura “mang kana awwaluhu sengkah, fa akhiruhu kastah” Barang siapa yang saat belajar hanya bermalas-malasan, maka pada akhirnya kelak dia akan menyesal.
Pesantren itu unik. Di dalamnya ada tradisi yang nggak dimiliki sekolah mana pun. Ada sorogan, bandongan, talaqqi, riyadhoh, sowan, sampai tirakat ngalap ilmu dari kiai. Semua itu bukan sekadar sistem. Itu jalan spiritual. Kalau hari ini teknologi berkembang, maka santri harus melek juga. Bukan untuk ikut-ikutan, tapi supaya bisa jadi bagian dari solusi. AI bisa dipakai buat bantu bikin kamus nahwu interaktif, sampai peta sanad ulama. Tapi semua itu harus dibingkai dengan nilai dan akhlak pesantren serta mengambil refrensi nyata dalam kitab ulama’ salaf. Kita punya kaidah usul yang berbunyi :
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
“Sesuatu yang jadi alat menyempurnakan kewajiban, maka ia juga wajib.”
Kalau dakwah sekarang butuh teknologi, maka belajar teknologi jadi bagian dari jihad intelektual.
Tapi penting untuk digaris bawahi, AI itu ibarat pembantu di dapur ilmu. Boleh bantuin, tapi jangan sampai gantiin peran guru. Jangan sampai AI ngajarin ngaji, terus santrinya jadi lupa sama adab. Jangan sampai karena semua serba instan, kita lupa bahwa dalam tradisi Islam, ilmu itu didapat dengan kesabaran, kerendahan hati, dan proses panjang. Jadi ingat sebuah guyonan “kalau AI sudah bisa ngaji, bisa jadi pesantren tidak butuh ustadz lagi” tapi jangan dimaknai mentah-mentah ya teman-teman, mungkin yang di maksud bahwasannya kita harus bisa menggunakan kemajuan dengan sebijak-bijaknya, jangan sampai peran kita tergantikan olehnya. Kalau sampai Ai bisa ngaji ya kita harus lebih rajin lagi mengajinya, dan tidak tergantikan peranya.
Ibn Jama'ah dalam Tadzkirotus Sami' menerangka tentang pentingnya berguru pada manusia bukan hanya otodidak semata, beliau berkata :
مَنْ أَخَذَ الْعِلْمَ عَنِ الْكُتُبِ ضَيَّعَ الْأَحْكَامَ
“Barangsiapa mengambil ilmu hanya dari buku (tanpa guru), maka ia telah menyia-nyiakan hukum-hukum.”
Apalagi kalau ilmunya dari robot. AI itu netral. Yang bahaya itu manusia yang salah pakai. Maka pesantren dan santri punya tugas, bukan cuma belajar, tapi juga membingkai arah kemajuan. Kalau AI bisa dijadikan alat untuk dakwah, pendidikan, dan kebaikan umat, maka silakan dipakai. Tapi jangan pernah hilang dari ingatan kalau ilmu bukan soal siapa yang cepat, tapi siapa yang selamat. Seperti yang disabdahkan nabi :
الحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَأَيْنَمَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Di mana pun ia menemukannya, maka ia paling berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi)
Kalau hikmah hari ini bisa ditemukan dalam AI, ya monggo diambil. Tapi jangan sampai lupa sama hikmah yang udah ada di kitab kuning, di majelis ngaji, dan di sepi-sepinya tirakat malam. Karena di situlah kemajuan sejati seorang santri.
Terakhir saya ingin menyampaikan sebuah argumentatif dari guru kita K. Muhammad Al Fayyadl, M.Phil dalam sambutannya berdauh
“Belajar bukan hanya tentang hafalan, bukan soal kemampuan IQ, bukan juga tentang kemampuan dalam berfikir dan berbicara. Tapi ilmu harus dibangun dari kesadaran hati dan fikiran, kesatuan antara niat dan perbuatan. Jalan yang paling baik adalah menumbuhkan mahabbah, yaitu cinta. Agar kita bisa mencintai, kita harus terlebih dahulu mengenal. Dan jika sudah mengenal, maka cinta kita akan semakin dalam”
Kenapa beliau berdauh seperti itu, karena sebagian dari kita kadang hanya suka mengambil buahnya, tapi tidak mengenal siapa yang menanamnya. Allahua’lam.....

0 Komentar