Sebuah Awal Dari Akhir

 


“hari ini jangan lupa tersenyum.

Gausah cemberut terus.”

Kalimat itu terus terngiang dibenakku, salah satu dari 7 e-mail terakhirnya yang terus menghantuiku. Kini, angkanya sudah bertambah, bahkan terus bertambah. Membuatku mati-matian untuk tak penasaran. Mengapa ia begitu mempersulitku. Seakan menyuruhku untuk menoleh kebelakang dan terus menetap bersamanya.

Terakhir kulihat, totalnya ada 12 e-mail yang ternyata sudah kulewatkan, memang tak ingin kubaca sejak awal. Sialnya, setelah semuanya tuntas kubaca tiba-tiba rasa gelisah menyeliputu hatiku. Pasalnya, hampir sebulan setelah e-mail terakhir yang ia kirim itu, tak ada lagi satu e-mail pun yang masuk di ponselku.

Rupanya lelaki itupun sudah mulai muak, harusnya aku tak perlu mengkhawatirkannya. Sudah jelas ia memiliki dirinya sendiri dan aku memiliki diriku sendiri. Yah, meski tak bersamanya, aku jelas masih bisa menikmati hidupku, begitupun sebaliknya. Justru, harusnya aku fokus saja merawat ibu, yang semakin hari kondisi kesehatanya semakin menurun. Ia satu-satunya anggota keluargaku yang tersisi, setelah ayah menginggalkan kami satu tahun yang lalu. 

Beberapakali saat aku duduk di samping wanita paruh baya itu, ia selalu berbisik pelan “Nak, dengarkan nasehat ibu. Ikhlaskan Naufal dan buka hati untuk pemuda pilihan ibu. Dia lebih cocok dengan mu dibandingkan Naufal.” Disaat itu aku hanya dapat tertunduk. Aku berani bertaruh, mengikhlaskan seseoorang yang sudah mengenalkan kita akan indahnya cinta dan menetap bersamanya selama bertahun-tahun tak semudah itu.

Meski demikian, tak ada sepatah katapun ku ucapkan untuk melayangkan protes pada wanita senja yang ku panggil dengan sebtan ibu itu. Aku begitu menyayanginya, jika bisa, apapun akan kulakukan untuknya, termasuk jika harus melupakan Naufal, lelaki yang lima tahun belakangan ini memiliki hatiku. 

Seharusnya, aku bisa tenang setelah akhirnya tak lagi menerima notifikasi e-mail darinya, dan seharusnya memang seperti itu. Namun satu notifikasi lagi-lagi merusak pertahanan-ku. Sebuah e-mail darinya tiba-tiba kembali masuk. Sebenarnya aku tak mengerti apa yang dia inginkan, mengapa setelah menghilang 2 bulan lamanya, ia tiba-tiba kembali dengan sebuah e-mail bertajuk  'awal dari akhir', disusul notif-notif selanjutnya dengan judul yang berbeda-beda. 

Ingin rasanya kudatangi lelaki itu sekarang juga. Meminta pertanggung jawaban atas tiap pertanyaan yang mengusik hati. Apa maksud dari e-mail yang ia kirim padaku, begitupun mengapa ia terus saja kekeh, meski sudah tau jika semua ini hanyalah akan mengantarkan kami pada akhir yang hampa.

'Ting’

Satu notifikasi kembali masuk dengan judul 'pesan untukmu', hal itu membuat netra sayu-ku langsung terbuka lebar, disusul rasa penasaran yang mendorongku tuk segera membaca isi dari e-mail tersebut.

1.Gausah insecure terus ra! Kamutuh cantik banget!

2.Berhenti diet berlebihan, gak bagus buat tubuh kamu.

3.Stop makanan yang terlalu pedas, hargai lambung!

4.Jangan suka begadang!, apalagi cuma buat maraton.

5.Ra, jangan lupa bunga-bunganya disiram, biar ga layu.

6.,,,,,,,,

Netraku tak sanggup membacanya hingga akhir, karena tiba-tiba sebuah genangan air menetes tanpa aba-aba. Rasanya ada yang tak beres. Seperti lelaki itu akan pergi cukup jauh, dan takkan pernah kembali. Berulang kali kutepis pemikiran itu, seraya kedua tangan-ku mengusap jejak-jejak air mata di pipi. 

Memangnya kenapa jika ia tak lagi bersama-ku?. Bukannya justru itu adalah hal yang bagus, karena aku tak perlu menjauh lagi.

Sebulan kemudian aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya, notifikasi darinya pun tak pernah masuk lagi di ponsel-ku. Hingga suatu pagi setelah selesai menyuapka ibu sarapan, tiba-tiba sebuah penggilan masuk dari salah seorang teman yang sudah bersamaku dari SMP menggetarkan hati-ku.

“Ra, udah tau kabarnya kan?.”

“Minimal salam dulu vi.” Ucapku seraya bangkit untuk keluar kamar, agar ibu tidak terganggu. 

“ Assalamualaikum ukhty, kamu tau kan si Naufal?.”

“kenapa?, aku sudah lama lost contact sama dia.”

“Naufal ra, dia udah ga ada.”

Kedua mataku langsung membola sempurna. Tak terbayang olehku apa yang dikatakannya barusan. Lidah-ku tiba-tiba kelu tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata lagi.

“Ra, dengerin, masa kamu ga tau kabarnya selama ini?.”

“udah lebih setengah tahun Naufal divonis tumor. Dan kamu tau kan, dia emang udah punya asma dari kecil. Tiba-tiba kondisi dia semakin memburuk semenjak 3 bulan terakhir.”

Setelah itu aku tak lagi mendengarkan ucapanya, tanganku tak cukup kuat untuk mempertahankan ponsel di telingaku. Hanya terbayang akan Naufal dan e-mail lama yang pernah dikirimnya. Mengapa diriku begitu tidak peka. Mengapa aku baru tahu setelah lelaki itu pergi meninggalkan-ku. Bahkan untuk melihat raganya lagi sekarang hanya sebatas angan.

Aku terduduk di kursi rumah sakit. Tubuhku terasa begitu lemas mendapat kenyataan ini. Ternyata ini akhir yang ia maksud, akhir dari hidupnya sendiri. Bahagia disana, lelaki yang sempat menjadi alasan-ku bahagia. Jika bukan didunia , semoga tuhan berkenan untuk menyatukan kita di akhirat kelak.

Karya : @nurlAmrtzhra

Posting Komentar

0 Komentar