Di era digital, segala hal terasa menjadi lebih mudah, termasuk dalam urusan belajar. Bahkan kini kita bisa mengikuti kelas internasional hanya dari kamar. Perkembangan teknologi yang pesat telah memengaruhi cara berpikir manusia, termasuk dalam memandang proses belajar itu sendiri. Akibatnya, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa belajar tidak perlu dilakukan di sekolah, bahkan tidak membutuhkan guru.
Sekilas, anggapan itu tampak masuk akal. Berbagai kemudahan telah disediakan oleh teknologi. Kita bisa belajar bahasa asing, desain grafis, sejarah, dan lain sebagainya. Hanya dengan membuka YouTube atau situs pembelajaran daring lainnya. Namun, benarkah hal tersebut sepenuhnya tepat?
Tentu saja tidak. Anggapan seperti itu keliru karena tidak semua ilmu bisa dipelajari sendiri. Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi baru, melainkan juga proses pembentukan karakter baik kedisiplinan maupun adab. Teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu membentuk karakter seseorang. Di sinilah letak pentingnya peran seorang guru, yang tidak akan pernah tergantikan.
Guru bukan hanya pengajar yang menyampaikan materi, melainkan pembimbing ruhani, pelurus niat, dan penjaga adab muridnya. Oleh karena itu, para ulama besar menempatkan adab di atas kecerdasan intelektual. Seperti dalam maqolah-nya Imam Syafi'i, “Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan adab.”
Saya sepakat dengan pendapat bahwa belajar tidak harus selalu di sekolah. Namun, belajar harus tetap melibatkan guru. Belajar mandiri tanpa bimbingan guru ibarat berlayar di tengah laut tanpa membawa kompas. Orang yang belajar tanpa guru akan mudah tersesat di lautan informasi, bahkan bisa terjebak pada sumber-sumber yang menyesatkan.
Maka, di tengah gemerlapnya dunia digital, seorang santri harus menjadi pelopor keseimbangan. memanfaatkan teknologi dengan bijak, namun tetap menjaga adab dan meminta bimbingan kepada para guru. Sebab, sejatinya yang membentuk manusia bukan hanya informasi, tetapi juga sentuhan jiwa dari seorang pendidik.
Selain itu, proses belajar dengan guru juga menciptakan interaksi sosial yang sehat. Dalam ruang kelas atau majelis ilmu, seorang murid tidak hanya belajar dari gurunya, tetapi juga dari teman-temannya. Diskusi, tanya jawab, serta perdebatan ilmiah menjadi bagian penting dari pendewasaan berpikir yang tidak bisa diperoleh secara utuh melalui layar digital.
Kehadiran guru juga memberikan rasa tanggung jawab moral bagi seorang murid. Bimbingan langsung, teguran ketika salah, serta pujian saat benar, membentuk ikatan batin yang memperkuat semangat belajar. Hal ini tidak bisa tergantikan oleh notifikasi aplikasi atau algoritma pembelajaran daring yang cenderung dingin dan impersonal.
Akhirnya, teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Ia bisa menjadi jembatan menuju ilmu jika digunakan dengan benar, tetapi juga bisa menjadi jurang jika tidak dibimbing dengan bijak. Di sinilah pentingnya sinergi antara kecanggihan digital dan kebijaksanaan tradisi, antara informasi yang melimpah dan bimbingan guru yang membumi.
Oleh : Ramdhani

0 Komentar