Waspada!! Anomali perusak otak

 

Akhir-akhir ini, suara "tung tung tung sahur" seolah jadi semacam alarm budaya baru. Bukan lagi hanya untuk membangunkan orang sahur, tapi berubah jadi tren absurd yang menjamur di TikTok, Reels, hingga dijadikan merchandise. Lucu? Mungkin. Kreatif? Bisa jadi. Tapi layak nggak sih kita menormalisasi sesuatu yang asal-muasalnya bahkan nggak jelas?

Apalagi kalau ditelusuri lebih dalam, tren ini bagian dari fenomena yang lebih besar yang disebut Brand Rock. Secara harfiah berarti "otak busuk", dari kata "brand" (otak) dan "rock" (rusak). Istilah ini muncul karena kontennya memang dibuat untuk absurd, tanpa makna, tapi tetap bisa viral. 

Masalahnya, karena terlalu catchy, tren-tren ini mulai membentuk cara pikir baru: kita terbiasa dengan hal aneh, tak masuk akal, bahkan ketika itu menyimpan racun naratif.

Contohnya seperti “Trallalelo Trallala Porcodio Porcualla.” Kedengarannya kocak, tapi ternyata itu kalimat penghinaan langsung terhadap Tuhan  “Porcodio” dalam bahasa Italia artinya “Tuhan Babi.” “Porcualla” gabungan dari “porco” (babi) dan ada asthma“alla” juga.  Konten ini viral bukan karena cerdas, tapi karena dibungkus dengan karakter AI absurd yang membuat kita lupa bahwa yang ditertawakan adalah penghinaan agama.

Atau narasi absurd lainnya: “Bombardiro Crocodilo un fottuto alligatore, venaten che vela e bombarda i bambini a Gaza in Palestina.” Seekor buaya terbang yang mengebom anak-anak Palestina, dijadikan konten “lucu” oleh orang-orang yang bahkan mungkin tak sadar kalau itu menyakiti nurani. Ini bukan sekadar tidak etis ini beku secara moral.

Di Indonesia, versi lokalnya adalah "tung tung tung sahur". Awalnya niatnya positif, bangunin sahur, bahkan terasa dekat dengan budaya Ramadan. Tapi setelahnya, karakter ini malah dijadikan filter, mainan, dan dagangan. Tanpa kita sadari, budaya absurd ini bergeser dari iseng jadi industri, dari lucu jadi kehilangan makna. Kita boleh saja tertawa, tapi jangan sampai tertawa sambil menginjak nurani. 

Jangan sampai kita ikut menyebarkan konten yang menghina, merusak, atau mematikan empati. Lucu itu boleh. Tapi kalau lucu sambil menormalisasi kebencian dan kekacauan, kita bukan sedang ikut tren kita sedang ikut rusak.Jadilah netizen yang cerdas. Saring sebelum sharing. Pahami sebelum viral. Karena kalau kita terus biarkan konten seperti ini berkuasa di kepala kita, jangan heran kalau otak kita ikut rusak pelan-pelan.

Dan pembahasan Anomali ini tidak selesai sampai itu, banyak sekali jurnal-jurnal yang membahas terkait bahaya Anomali ini, dari rusaknya mental, kekejaman, meremehkan orang cacat, dan menertawakan hal-hal yang tidak jelas. Semoga kita bisa dihindari dari hal-hal semacam ini Amniin....



Posting Komentar

0 Komentar