Antara Fashion dan Ketaatan

  

     Belakangan ini, trend fashion muslimah bergaya Arabic style semakin marak baik di dunia nyata mauapun sosial. Gaya berpakain dengan gamis longgar, kaftan, abaya dengan warna-warna earthy khas timur tengah, dan jilbab menjuntai banyak di jadikan pilihan utama style muslimah masa kini. Tak jarang gaya berpakaian seperti ini secara tidak langsung dijadikan tolok ukur ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Coba saja bayangkan ketika kita melihat muslim/muslimah yang mengenakan gamis/jilbab panjang, apa yang terlintas dipikiran kita? Mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah dia orang taat, rajin ibadah, saleh-salehah, dan lain sebagainnya. Namun, benarkah demikian?

    Ajaran Islam adalah petunjuk Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hambanya. Ajaran Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa, serta untuk seluruh lapisan masyarakat, bukan ajaran untuk bangsa tertentu saja. Sekalipun memang pada awalnya ia berada didalam satu bangsa, ia adalah satu dalam arti ia meliputi seluruh manusia. Oleh sebab itu, berbicara secara Islam, tidak bisa ada tata sosial Arab, Turki, Iran ataupun Malaysia, melainkan satu yaitu tata sosial Islam.

  Sebagaimana yang dinyatakan dalam Q.S. al Anbiya, ayat: 107; bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat untuk seluruh alam. Sehingga dapat dipahami bahwa Islam sebagai ajaran yang universal tidak terikat dengan tatanan sosial, adat, ataupun budaya suatu bangsa tertentu. Ajaran Islam yang universal inilah yang dapat menjadikannya bisa diterima ditempat manapun. Islam merespon baik dan mengakui eksistensi budaya-budaya lokal yang terkadang dalam kondisi tertentu, justru dipandang sebagai bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

    Demikianlah yang telah terjadi di dunia fashion muslim saat ini, dalam hal berpakaian Islam tidak menuntut umatnya untuk mengenakan model pakaian tertentu atau berasal dari budaya manapun. Hanya saja Islam memberi ketentuan atau standar yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang mencakup; menutup aurat, tidak transparan, tidak mengekspos bentuk dan lekuk tubuh, dan seterusnya. Entah itu bergaya Indonesia, arab atau negara manapun, yang penting tidak melaggar ketentuan atau standar yang telah ditentukan syariat.

    Gaya busana Arabic style sejatinya adalah produk budaya dari masyarakat Arab, bukan bagian dari ajaran Islam itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya diartikan sebagai adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Maka dari itu, gaya berpakaian ini lebih tepat dikategorikan sebagai ekspresi kultural masyarakat Timur Tengah, bukan standar religius universal.

Posting Komentar

0 Komentar