Antara Seni dan Spritualitas dalam Bershalawat

     Membaca shalawat kepada Rasulullah Saw. merupakan ibadah yang dianjurkan Islam, karena Allah dan para Malaikat-Nya juga bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Sebagai sebuah anjuran yang disepakati, maka nama-nama shalawat juga beragam jenis, seperti Shalawat Ibrahimiyyah, dan Shalawat Jibril dengan bacaan yang pendek dan ringkas kemudian Shalawat Fatih, Shalawat Munjiyat, dan Shalawat Nariyah dengan bacaan yang cukup panjang. 

Shalawat juga memiliki dimensi spiritual yang dalam, ia mendekatkan kita pada Sang Pencipta, melalui jalan cinta kepada utusan-Nya. Bahkan dalam keheningan malam, ketika dunia seakan berhenti bergerak, shalawat mampu menjadi pelipur lara (penghibur duka), teman renungan, sekaligus penguat jiwa yang lelah.

Namun, pertanyaannya, apakah kita hanya melantunkan shalawat sebagai lisan yang kosong?, ataukah kita benar-benar menjadikannya sebagai pengingat untuk meneladani akhlak Nabi?, shalawat seharusnya bukan hanya dilafalkan, tetapi dihayati dan diwujudkan dalam perilaku. Cinta yang sejati kepada Rasulullah adalah cinta yang membuahkan tindakan lemah lembut kepada sesama tanpa memandang perbedaan, jujur dalam berkata, adil dalam bertindak, dan sabar dalam mengahadpi ujian.

Belakangan ini, kita sering menyaksikan fenomena dalam cara sebagian kalangan mengekspresikan cinta kepada Nabi Muhammad Saw. lantunan sholawat diiringi dengan musik yang keras, lampu warna-warni layaknya panggung konser, kibaran bendera, bahkan diselingi gerakan tubuh atau joget tipis dari para penampil maupun penonton.

Menurut sebagian orang, tidak melarang mengekspresikan shalawat dengan cara yang menggembirakan dan mampu menarik minat anak muda untuk mencintai Nabi Muhammad Saw. selama isinya tidak melanggar syari'at, maka bentuknya bisa menyesuaikan dengan zaman. 

Namun disisi lain, hal seperti ini di kawatirkan akan menghilangkan makna asli dari sholawat itu sendiri. Dari yang seharusnya menjadi ungkapan cinta dan kerinduan yang mendalam kepada sosok yang mulia Nabi Muhammad Saw. bisa berubah menjadi sekedar tontonan hiburan  bahkan ajang sensasi.

Islam tak pernah menolak ekspresi seni. Bahkan dakwah rasul pun tak lepas dari puisi, lagu, dan estetika. Tapi dalam setiap ekspresi, ada adab dan niat yang menjadi penentu. Musik bisa jadi media yang indah, tapi jika terlalu dominan, ia bisa membungkam makna. Gerakan tubuh bisa menunjukkan semangat, tapi jika berlebihan, ia bisa menghilangkan kekhusyukan. Lampu bisa menerangi, tapi jika menyilaukan, ia justru mengaburkan arah.

Jika memang ingin menarik anak muda kepada cinta Rasulullah, barangkali bukan hanya dengan gebyar panggung, tapi juga dengan keindahan akhlak, kekuatan teladan, dan kedalaman makna. Karena pada akhirnya, cinta sejati kepada-nya bukan diukur dari kerasnya musik atau sorot lampu, tapi dari lembutnya hati dan lurusnya jalan hidup.

Posting Komentar

0 Komentar