Hari yang Mati, Hari yang dinanti

Judul : Selamat Ulang Tahun

karya : @bud.bud.maknaee

dari 365 hari selama setahun

2 hari yang aku tunggu.

pertama, 1 hari ketika aku dilahirkan

kedua, 1 hari ketika kamu dilahirkan

Pertanyaannya,

apakah akan ada 1 hari untuk kita dipertemukan?


Judul : Masa lalu

karya : @Ghasan

Ku kira kau sudah pergi

Ia kembali, merindu pada jiwa-jiwa yang mati

Memori dan ruang sunyi tak terisi

Mengisi luka yang mendera tanpa henti


Kamu kembali? 

Tapi bukan dirimu lagi

Seperti fajar terganti oleh mentari

Membangunkan tumbuhan layu

Yang lama mati suri


Tanggal tua, bulan muda 

Membanjiri ruang tidak berwarna

Tentang nona yang disana

Sudah usaikah dengan masa lalunya?


Tafsir puisi

Selamat bertemu kembali para penjelajah rasa, alhamdulillah ya.. kalian istiqimah untuk membaca tulisan ini, perlu diketahui teman-teman bahwa diruang ini semua perasaan bertumpuk dan berpadu. Jadi, saya sarankan kuatkan mental hati kalian, baru kalian lanjut membacanya.

OK, kita lanjut ya....saya ingin bertanya pernahkah kamu duduk sendiri, lalu merasa masa lalu menepuk punggungmu pelan? Atau menatap hari depan, berharap seseorang menoleh dari kejauhan? Semua itu akan kalian rasakan dalam dua puisi ini “Masa Lalu” karya Gasan dan “Selamat Ulang Tahun” karya bud.bud. Maknae, mereka datang dari dua ujung waktu, tapi keduanya bicara pada ruang hati yang sama, yakni rindu yang tak utuh.

Dalam Masa Lalu, kenangan muncul bukan sebagai bayangan, tapi hampir seperti manusia yang mengetuk pintu. “Kukira kau sudah pergi,” tulis Gasan ini manjadi sebuah kalimat yang sederhana, tapi mengandung letupan emosional. Luka-luka lama, memori yang mengendap, datang kembali dalam bentuk yang berbeda. Bukan “dirimu” yang kembali, tapi sesuatu yang menyerupainya. Seperti mentari yang menggantikan fajar lebih terang, tapi juga lebih menyilaukan.

Lalu tiba-tiba, kita diseret masuk ke Selamat Ulang Tahun puisi yang lebih ringkas, lebih jujur, dan mengandung harapan kecil yang menggantung (sepertinya)"apakah akan ada satu hari untuk kita dipertemukan?" Begitu jujur dan dalam. Jika Masa Lalu adalah ruang gelap yang diisi bayangan, maka Selamat Ulang Tahun adalah jendela kecil yang terbuka ke langit pagi. Keduanya bicara tentang ketidakhadiran yang satu datang kembali tapi berubah, yang satu bahkan belum sempat hadir.

Ada aliran waktu yang menyatukan keduanya. Gasan menulis tentang seseorang yang hadir sebagai luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Sementara Maknae menulis tentang seseorang yang belum hadir, tapi sudah dirindukan. Dua poros emosi ini bertemu dalam sunyi yang sama yang tak butuh banyak kata untuk terasa.

Secara estetik, keduanya layak diapresiasi. Gasan bermain metafora dan atmosfer yang kuat, sedang Maknae menyentuh dengan kesederhanaan yang mengena. Keduanya memilih tidak menyelesaikan cerita, dan justru di situlah kekuatannya. Karena hidup pun seringkali tak membereskan apa-apa.

Dua puisi ini mengajarkan kita bahwa tidak semua kehilangan harus ditangisi, dan tidak semua penantian harus dijawab. Sebab dalam jeda, dalam tanya yang tergantung itu, puisi menemukan napasnya dan kita, mungkin, menemukan diri kita sendiri.


Posting Komentar

1 Komentar