Hujan dan Langit Sore

Namaku putri,

Hari itu, langit cerah, seolah turut menyambut pertemuan kami. Setelah sekian lama terpisah oleh masa liburan yang panjang, akhirnya aku, Dira, dan Naila kembali duduk bersama. Bukan di dalam kelas seperti biasa, tapi di taman kecil di samping gedung kampus, tempat yang sering kami jadikan pelarian sejenak dari lelahnya rutinitas kuliah.

Jam Kuliah baru saja usai, matahari masih bersinar hangat dan angin sore mengusap pelan rambut kami. Perasaan yang sulit digambarkan, semacam kelegaan bercampur rindu. Seperti halaman buku lama yang dibuka kembali. Kami saling menatap dan tersenyum. Kami bertiga adalah teman akrab yang dipisahkan oleh jarak dan waktu. 

Lalu Dira, dengan sorot mata khasnya yang selalu dipenuhi ide, membuka suara. “Gimana kalau sekarang kita saling bercerita tentang liburan kemarin? Tapi kita buat kesepakatan, siapa yang ceritanya paling indah, dia menang dan nanti kita traktir.” Aku dan Naila langsung mengangguk. Sebuah kesepakatan sederhana, tapi terasa menyenangkan di antara kami. 

Lalu dimulailah kisah-kisah itu. Dimulai dari Naila bercerita dengan mata berbinar tentang perjalanannya ke pantai bersama keluarganya. Di tengah desiran angin dan debur ombak, tak disangkanya ia dipertemukan kembali dengan sosok yang selama ini dirindukannya: Bu Winda, guru SD favoritnya. 

Tujuh tahun lamanya mereka tak berjumpa, namun pertemuan singkat di pasir putih itu menghapus seluruh jarak waktu. Katanya, rasanya seperti memeluk kenangan masa kecil yang selama ini hanya bisa dikenang dalam ingatan.

Sementara itu, Dira dengan pipi sedikit memerah menceritakan harinya yang diisi dengan belajar piano. Tapi bukan di tempat kursus, melainkan bersama Rafi, teman laki-laki yang sudah lama diam-diam ia kagumi. 

Setiap senja, bunyi piano jadi saksi percakapan-percakapan kecil mereka,  bunyi piano yang membuat mereka berdua semakin dekat. Baginya, liburan kemarin bukan hanya tentang belajar musik, tapi juga tentang keberanian membuka lembaran baru dalam hatinya.

Lalu akhirnya, sampai pada giliranku  bercerita. Suaraku pelan, seolah mengajak mereka berjalan ke dalam ruang-ruang sunyi anganku. aku, menceritakan sebuah kisah tentang setangkai bunga yang tumbuh di balik jendela rumah seseorang. 

Setiap pagi, pemilik bunga itu datang, menuangkan air dari kendi dengan penuh kasih. Tetes demi tetes itu jatuh meresap pada akar-akar bunganya, memberikan kesegaran, menghidupkan tiap helai daunnya. Dan setiap kali itu terjadi, bunga kecil itu merasa begitu bahagia. Baginya, air dari tangan pemiliknya adalah kebahagiaan yang sempurna, tanpa berpikir ada kebahagiaan lain yang lebih dari itu.

Namun, bunga itu tidak pernah tahu, bahwa di luar sana, ada tetesan-tetesan lain yang jauh lebih menyenangkan: hujan. Hujan yang oleh tanaman-tanaman lain disebut sebagai pesta air dari langit, aliran butir-butir bening yang membasuh mereka sepenuhnya. Bunga itu tidak pernah tau apa itu hujan, pengetahuannya tentang air hanya terbatas pada apa yang keluar dari kendi. 

karena setiap kali hujan datang, pemiliknya selalu menutup rapat tirai jendelanya. Korden tebal menutupi pandangan bunga itu dari dunia luar.

Maka, sepanjang hidupnya, yang ia kenal hanyalah air dari kendi pemiliknya. Ia tak pernah tahu wujud hujan, tak pernah merasakan bagaimana rasanya disentuh oleh gerimis, tak pernah mendengar dengan jelas nyanyian air di atap-atap.

Dan Aku, adalah bunga di balik jendela itu, hidupku hanya sebatas di rumah. Aku tak pernah benar-benar menyentuh dunia luar, bahkan sekadar membayangkannya pun kerap membuatku takut. Ada ketakutan yang sulit kujabarkan. Takut jika aku melangkah keluar, aku akan kering, hangus terbakar oleh keinginan-keinginan yang takkan pernah bisa kugapai. 

Dunia luar, bagiku, hanya sebatas angan. Aku sudah nyaman di tempatku kini, rumah. Aku punya alasan yang hanya aku sendiri yang tahu. Sebuah alasan yang tak mampu aku ceritakan pada siapapun, bahkan pada kalian teman-temanku. Sudah cukup bagiku menikmati sejuknya sepi dibalik tirai kenyamanan itu.

Setelah aku selesai bercerita, mereka terdiam sesaat. Namun kemudian, senyum dan mata berkaca-kaca menghiasi wajah keduanya. Mereka saling menatap dan serempak menunjuk ke arahku.

“Putri, ceritamu paling indah. Kamu pemenangnya!” seru mereka, penuh haru.

Lalu, dengan semangat mereka berkata, “Kalau begitu, sebagai hadiahnya, kami traktir kamu bukan hanya makan di kafe, tapi juga jalan-jalan. Biar kamu punya pengalaman baru. Ayo, jangan nolak!”

Aku menatap mereka. Kurasakan kehangatan di balik tawaran itu, tapi juga ada batas yang tak mampu kulalui. Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab lirih, “Maaf...aku tidak bisa, sampai jumpa besok..” Tanpa menunggu reaksi mereka, aku segera melangkah pergi meninggalkan wajah mereka yang dipenuhi kekecewaan.

Di depan kampus, mobil ayahku sudah menunggu. Sopir ayahku membukakan pintu, dan aku masuk ke dalam. Mobil berjalan pelan menyusuri jalan kampus. Di balik kaca, langit sore terlihat berwarna lembut, seolah memeluk bumi dengan tenang. Sambil menatap langit, aku berbisik dalam hati, "apa yang kamu miliki hari ini, itulah yang harus kamu nikmati." Aku tersenyum, awan-awan bergeser perlahan, menampung bisikan kecil yang hanya langit dan hatiku yang mengerti.

Penulis : Imam Thabroni

 

Posting Komentar

0 Komentar