Resensi Buku : Duli di Terompah Nabi


Buku berisi kumpulan puisi-puisi yang berjudul “Duli di Terompah Nabi” merupakan sebuah karya yang dipersembahkan untuk junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Buku yang dikarang oleh M. Faizi, beliau salah satu penulis kelahiran sumenep,madura, mulai menghimpun beberapa aspek mulai dari pusi hingga terjemahan maulid dayba'i. 

Buku ini sangat unik, penulisan dalam buku ini menggunakan gaya bahasa yang berbeda-beda antara puisi yang satu dengan yang lain, karena proses penggarapan buku ini membutuhkan waktu yang sangat panjang selama 31 tahun (1993-2024). Selain itu penulis juga mencantumkan tanggal pembuatan di akhir puisinya.

Disini penulis mengungkapkan perasaannya kepada nabi menggunakan sudut pandang yang berbeda, terkadang kerinduan penulis untuk berjumpa, kadang pengakuan atas dosa, kadang juga bentuk rasa syukur atas kelahirannya.

Buku ini didesain agar pembaca tidak bosan dan agar tidak stagnan, sehingga penulis sengaja tidak menggunakan bahasa sederhana, tetapi lebih memilih diksi yang rumit dan mendalam. Diksi kata yang digunakan oleh penulis terbilang rumit bagi orang yang baru bergelut dibidang sastra. Meski rumit bukan berarti sulit dipahami. Justru, diksi yang rumit ini disusun agar tetap bisa diresapi  oleh pembaca bahkan yang baru memasuki dunia sastra.

Salah satu puisi dalam buku ini yang mencerminkan kedalaman intelektual sekaligus spiritual penulis adalah puisi berjudul "I'rab", dengan baris yang sangat menyentuh:

"Engkau mudhof, aku mudhof ilaih."

Dalam ilmu tata bahasa Arab (nahwu), istilah mudhof dan mudhof ilaih digunakan dalam susunan idhafah, yakni frasa yang menyatakan kepemilikan atau keterikatan. Mudhof adalah kata pertama yang tidak bisa berdiri sendiri, sedangkan mudhof ilaih adalah kata kedua yang menjadi tempat sandaran makna dari yang pertama. Dalam konteks puisi ini, M. Faizi dengan cerdas menggunakan struktur gramatikal tersebut sebagai bentuk ketergantungan antara dirinya (penyair) dan Rasulullah SAW.

Kalimat “Engkau mudhof, aku mudhof ilaih” secara puitik menunjukkan bahwa penyair disini membutuhkan sandaran kepada Nabi Muhammad Saw. Ia akan rapuh tanpa keterhubungan dengan rasul, sebagaimana mudhof tidak bisa berdiri tanpa mudhof ilaih. Puisi ini adalah bentuk ketakwaan, ketundukan, serta ketergantungan manusia fana yang bersimbah dosa kepda sang junjungan kita Nabi Muhammad Saw.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana Faizi menyelipkan nilai-nilai keilmuan nahwu dan estetika sastra dalam satu bait yang sangat ringkas tapi penuh makna.

Selain berisi kumpulan puisi, buku ini juga berisi maulid dayba'i dan maulid simtuddhuror yang diterjemah oleh penulis. Terjemahan di buku ini berbeda dengan terjemahan yang sering kita jumpai, sebab penulis menerjemah dengan tetap menjaga rima sehingga terjemahan biasa dilagukan sebagaimana teks aslinya. Metode yang penulis gunakan dalam penerjemahan menggunakan metode ta'tiq (scansion) dengan metrum fa- ila-tun (diulang-ulang sebanyak 4 kali dalam setiap lariknya), metode ini sangat masyhur dikalangan pesantren karena metode ini adalah serapan dari ilmu arudl.

Tahun Terbit: 2024

Jumlah Halaman: 65 hlm 

Genre: Puisi Religius, Sastra Islam

Presensi : Muhammad Miftakhul Ulum 


Posting Komentar

0 Komentar