Seorang Pria yang Bahagia dengan Duka

    Kalau boleh aku mengubah judul buku ini, maka akan aku ubah menjadi “Seorang Pria yang Meredakan Duka dengan Mencuci Piring.” Aku mengganti kata “melalui” menjadi “meredakan.” Kenapa? Karena sampai kapan pun, duka dari luka tidak akan pernah benar-benar berlalu. Kita hanya bisa meredakannya, tidak menghapusnya.

    Dulu pernah aku ditanya, “Buku apa yang membuat pola pikirmu berubah?” Aku tak pernah menjawabnya. Tapi sekarang, aku bisa menjawab pertanyaan itu. Meski bukan berarti buku ini mengubah pola pikirku, justru aku merasa buku ini selaras dengan apa yang sudah ada dalam pikiranku, tentang sebuah luka yang sebenarnya tidak bisa dihilangkan.

    Benar saja, duka tidak bisa dianggap hal sepele, karena duka adalah salah satu kekuatan manusia yang melindunginya dari ganasnya dunia. Banyak orang salah perspektif, menganggap duka sebagai kelemahan, padahal berbeda dengan pendapatku, dan dengan apa yang dijelaskan dalam buku ini, karena bagiku duka justru menunjukkan kekuatan sejati manusia.

    Setiap hewan punya caranya masing-masing untuk melindungi diri, seperti  kura-kura dengan cangkangnya, ubur-ubur dengan tentakel atau tinta hitamnya. Tapi manusia? Dengan dukanya. Kenapa bisa begitu?. Saya jelaskan satu per satu. Manusia memiliki beberapa emosi dasar yang tertanam dalam dirinya: sedih, marah, bahagia, dan khawatir. Empat emosi ini atau kalau ingin versi yang lebih lengkap, bisa dilihat di film kartun Disney berjudul “Inside Out.” Di sana dijelaskan bahwa manusia memiliki lima macam emosi, dan masing-masing punya fungsinya sendiri.

    Lalu saya ingin bertanya: Emosi apa yang pertama kali kamu tunjukkan saat baru lahir ke dunia? Jika kamu menangis, maka kamu adalah manusia hebat. Karena jika kamu tidak menangis, maka orang tuamulah yang akan menangis. Tangisan bayi disebabkan oleh rasa sakit ketika udara pertama kali masuk ke paru-parunya. Tangisan itu tanda bahwa ia bisa bernapas. Jika tidak menangis, berarti bayi itu tidak bernapas dengan benar. Dengan menangis juga Bayi memberi isyarat kalau dia lapar, dengan menangis bayi memberi isyarat bahwa dia merasa tidak nyaman dengan cuaca, dengan orang baru yang ada dihadapannya, semua itu kamu lakukan untuk melindungi diri kamu, dengan cara manangis, sudah mendapatkan apa yang aku maksud? Bahwa menangis adalah kekuatan manusia untuk bertahan hidup.

    Kembali ke pembahasan bahwa duka adalah kekuatan manusia. Dalam konteks kehilangan, duka adalah respons hati ketika merasa kehilangan sesuatu yang ia cintai. Duka bukan disebabkan oleh cinta, duka adalah cinta itu sendiri.  Ia adalah respons cinta ketika kehilangan. kalau kata dr Andreas, “duka adalah saudara kembar siam dari cinta,” aku setuju itu, meski berbeda dengan pendapatku.

    Dalam buku ini dijelaskan secara rinci, bagaimana cara seseorang meredakan lukanya? Hal pertama yang harus dihindari adalah ucapan seperti “bersabar ya…” atau “semoga dapat yang lebih baik.” Kenapa? Karena kata-kata itu justru bisa memperparah luka. Ketika seseorang mencintai, maka orang yang ia cintai adalah versi terbaik yang pernah ia temui, wanita paling baik, paling sempurna bagi si penduka. Ia takkan pernah tergantikan oleh siapa pun. Apakah dia bisa berpindah ke lain hati? Bisa. Tapi bukan berarti wanita kedua lebih baik. Mereka sama-sama baik, hanya datang di waktu yang berbeda. Kalau Kata dr. Andreas, “Semua yang hilang bisa diganti, tapi tidak selalu harus diganti.” Tapi tidak segampang itu kan dok, Anda pasti butuh pengganti jika yang hilang itu istri Anda (canda).

    Jika kamu ingin menjadi pendengar yang baik, dan ada teman yang sedang bercerita tentang dukanya, maka jawablah “Aku ingin mengerti apa yang kamu rasakan. Ceritakanlah.” Dengan spontan, kamu sudah memberinya ruang. Bertanyalah dengan rasa ingin tahu, agar dia merasa bahwa kamu sungguh ingin memahami perasaannya. Apakah membiarkannya bercerita akan membuatnya semakin teringat? Ya, benar sekali. Tapi justru itulah proses penyembuhan paling ampuh. Membiarkan seseorang jatuh, benar-benar jatuh, sampai ia mencapai titik terendah dari dukanya, karena hanya dari titik itulah, ia bisa mulai meredakannya.

    Ada satu istilah yang menurut saya penting untuk diketahui. Efek dari mencintai terlalu dalam. Kenapa perlu dibahas? Karena inilah akar dari duka. Meredakan cinta yang terlalu dalam bukan hal mudah. Dalam istilah psikiatri disebut thought fusion, ketika seseorang melekat pada pikiran tentang orang lain begitu kuat, hingga muncul efek menolak realita dan rasa tidak berdaya. Karena cinta itu, ketika ia kehilangan, manusia mengalami perasaan sulit menerima kenyataan. Ia berkelana dalam pikirannya sendiri, berusaha mengendalikan, hingga akhirnya sampai pada titik impermanence (ketidakkekalan). Bahkan, ada yang disebut complicated grief, duka yang rumit. Padahal duka saja sudah rumit, ya? Ternyata masih ada yang lebih rumit lagi. Semoga kita dijauhkan dari itu.

    Apakah cinta itu berbahaya? Tidak. Cinta bukan gangguan, bukan diagnosis. Tapi dalam kondisi tertentu, kita perlu belajar mengaturnya. Percayalah, tidak ada yang bisa memahami seseorang kecuali mereka yang pernah mengalami hal serupa. Itulah yang disebut tacit knowledge pengetahuan yang hanya bisa dimiliki lewat pengalaman. Semua pelajaran itu bisa kamu dapatkan dari buku ini. kalau tentang proses penyembuhan menggunakan metode cuci piring, aku tidak bisa menjelaskannya, terlalu panjang dan indah. Para duka setidaknya membaca metode itu, sekalipun satu kali dalam hidupnya.

    Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kalian baca. Kenapa? Karena di dalamnya, kalian tidak hanya mendengar teori kosong, tapi juga pengalaman nyata tentang duka yang pernah dialami oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Seorang psikiater dengan akun sosial media bernama dr.ndreamon,  yang kehilangan orang tuanya sebulan sebelum wisuda, padahal wisuda adalah momen penting yang seharusnya dihadiri mereka. Lalu, kematian putra pertamanya, Hiro, seorang anak yang memiliki kelainan sejak kecil. Hiro bertahan hidup selama satu tahun, hingga akhirnya “berpindah” bukan meninggal, tapi berpindah tempat. Dokter Andreas sengaja tidak memberikan bantuan medis lagi, bukan karena kejam, tapi karena merasa putranya sudah cukup lama berjuang. Ia menganggap anaknya seorang pahlawan yang rela menanggung sakit selama setahun penuh, hidup dengan infus dan alat medis, hanya untuk menemani kedua orang tuanya. Sampai akhirnya dr. Andreas sadar: sudah cukup anaknya menjadi pahlawan. Saatnya ia beristirahat.

    Jika kebanyakan orang tua menjadi guru bagi anaknya, maka Hiro adalah guru bagi kedua orang tuanya. Melalui kepergiannya, mereka belajar arti mengikhlaskan yang sebenarnya.

Judul : Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
Penulis : dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Penerbit : Gramedia 
Jumlah Halaman : 191 halaman 
Presensi : Ahmad Fa’izul Mufid

Posting Komentar

0 Komentar