Antara Identitas, Formalitas, dan Realitas

 


    Islam adalah agama yang indah, berangkat dari segala macam ajaran, aturan, dan tradisi di dalamnya. Terlebih, agama Islam menjaga kita untuk menjadi muslim atau muslimah yang sesuai dengan identitas keislaman, hingga adanya beberapa aturan tertentu yang dapat memungkinkan menjadi apa yang pertama dianggap cerminan identitas, seperti halnya dalam gaya ber-pakaian. Selain dapat mencerminkan identitas diri, tak jarang sebatas pakaian saja juga mampu memberikan sebuah identitas baru sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku atau emosi pemakainya, terkadang juga pada saat bersamaan dapat mempengaruhi emosi dan cara pandang orang lain terhadapnya. 

    Selama ini, busana panjang dalam konteks Islam dipandang sebagai simbol kesopanan, kehormatan dan ketaatan kepada perintah Allah Swt. Busana bukan hanya sekadar kain yang menutupi tubuh, tetapi menjadi representasi dari nilai-nilai spiritual, tanggung jawab moral, dan identitas keislaman. Pada prinsipnya Islam memang tidak melarang umatnya untuk berpakaian sesuai dengan mode atau trend masa kini, asal semua itu tidak bertentangan dengan prinsip Islam. 

    Namun, di era media sosial saat ini, busana panjang terkadang berubah fungsi. Ia tidak lagi semata-mata menjadi bentuk ibadah atau penghayatan nilai, tetapi bergeser menjadi atribut visual untuk membangun citra atau branding diri secara daring.

    Ironisnya, dalam masyarakat kita, ada anggapan umum bahwa seseorang yang mengenakan pakaian panjang seperti gamis, jilbab panjang, atau pakaian yang menutupi seluruh tubuh dipandang lebih Islami atau lebih taat beragama. Katakanlah lebih alim. Pakaian semacam ini sering dianggap sebagai simbol kesalehan dan identitas muslim yang “benar”. Persepsi yang seperti ini terkadang menyederhanakan esensi ajaran Islam dan menempatkan formalitas busana sebagai tolok ukur utama keislaman seseorang.

    Fenomena yang muncul di berbagai platform digital belakangan ini, menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang mengenakan busana panjang hanya pada saat ingin berfoto atau membuat konten khususnya konten yang ingin memberi kesan religius, santun, atau "estetik Islami." Ditambah, postingan yang dibuat se-alim mungkin dengan memakai backsound “arabic” demi bergelar “yalil-yalil”, orang tidak lagi hanya menampilkan siapa mereka sebenarnya, tetapi lebih terkesan menampilkan siapa yang ingin mereka tampakkan. 

    Dalam dunia seperti ini, simbol-simbol religius termasuk busana panjang bisa menjadi semacam "kostum spiritual" yang digunakan sementara untuk mendulang simpati, validasi, atau bahkan keuntungan materi. Penampilan menjadi penting, kadang lebih penting dari isi atau makna yang mendasarinya. Padahal, dalam Islam, keikhlasan dan konsistensi adalah dua nilai utama. Allah menilai manusia dari niat, bukan dari tampilan luarnya saja.

    Namun tidak menjalankannya dalam kehidupan nyata, maka niat yang mendasarinya layak untuk dikaji ulang. Bukan berarti setiap orang yang memposting dirinya dengan busana panjang pasti munafik bukan itu yang saya maksud. Namun, saya sedikit mengajak kita untuk jujur kepada diri sendiri: apakah ini bagian dari perjalanan iman yang tulus, atau hanya demi citra sesaat?

    Nyatanya, hakikat keislaman jauh lebih dalam dari pada sekadar penampilan luar. Memakai baju panjang memang bisa menjadi bentuk ketaatan dan penghormatan terhadap ajaran agama terkait kesopanan dan menutup aurat. Namun, tidak semua yang memahami agama dengan baik harus selalu mengekspresikannya melalui busana yang seragam atau tradisional. Ada muslimah yang mungkin berbusana lebih sederhana, modern, atau bahkan tidak sesuai dengan gambaran umum “Arabic style”, tetapi pemahaman, sikap, dan amalnya justru sangat dalam dan benar dalam menjalankan ajaran Islam.

Oleh : @wardatus.sholehah

Posting Komentar

0 Komentar