Di masa sebelum Indonesia merdeka parasantri sudah berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat terbukti dengan adanya pendidikan yang berbasis keagamaan islam di berbagai daerah, misalnya pesantren-pesantren yang banyak ditemukan di Pulau Jawa. Dengan adanya hal ini maka sudah jelas terlihat bahwasannya mereka (para santri) sukses di dalam menyampaikan dakwahnya.
Tak berhenti sampai sana, jihad santri juga bisa dilihat ketika bangsa belanda datang ke Nusantara, para santri tidak hanya diam dengan menyaksikan keadaan itu, akan tetapi mereka melakukan pergerakan dengan ikut serta melawan para penjajah. Perlawan itu dapat dilihat ketika pangeran di Ponegoro berusaha mengusir penjajah dalam perang Jawa pada tahun 1825, dan juga usaha dari pendiri pondok pesantren kita, yakni KH. Zaini Mun'im dalam melawan tentara Belanda.
Dengan adanya penjelasan di atas, santri harus meneruskan jihad-jihad yang sudah dilakukan oleh para kiai dan santri-santri terdahulu yang sudah berusha dalam membela negara dan agama, tentunya dengan menerapkan tahapan-tahapan jihad yang sudah disampaikan oleh Imam Ghazali dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Pertama diperkenalkan, kedua dibimbing, ketiga ditegur, ke empat sedikit dimarahi, ke lima dipukul, keenam diperangi jika melawan.
Namun di era revolusi ini yang dihadapi oleh para santri bukanlah penjajahan yang bersenjata melainkan krisisnya moral bangsa di karenakan adanya kemajuan pesat teknologi yang menguasai dunia. Perjuangan dalam hal ini bisa diusahakan dengan melakukan upaya memaksimalkan pengetahuan teknologi yang nantinya para santri bisa berdakwah di dalamnya. hal ini bisa direalisasikan dengan mebuat konten-konten youtube terkait hukum Islam, membuat reals di intagram tentang permaslahan fikih wanita dan berdakwah mealui tiktok dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat, juga bisa dikatakana sebagai resolusi jihad santri masakini. Untuk itu dakwah dan akhlak santri harus terus beriringan agar tetap bisa diterima di masyarakat dan tetap menjaga nama sanri itu sendiri.
Kesimpulannya, peran santri dalam membangun bangsa tidak hanya berlangsung di masa lalu, tetapi juga terus berlanjut dalam konteks modern. Mereka kini dihadapkan pada tantangan yang berbeda, yaitu penyebaran moral dan nilai agama di tengah kemajuan teknologi. Dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah, para santri dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan pemahaman agama yang relevan dengan era ini. Dengan demikian, perjuangan santri masa kini adalah bentuk jihad yang baru membawa nilai-nilai luhur dan ajaran Islam melalui teknologi, untuk menjaga serta mengembangkan karakter bangsa.
2.png)
1 Komentar
semoga kita semua, utamanya santri Nurul Jadid bisa meneladani jejak juang kiai zaini, rahimahullah, amiin.
BalasHapus