Bayangkan, pada tahun 586 Masehi, lahirlah seorang
sahabat Nabi bernama Abu Darda’ yang kelak dikenal karena semangatnya dalam
menuntut ilmu. Ia rela menempuh perjalanan berhari-hari hanya demi mendapatkan
satu hadis. Begitu pula Imam Al-Ghazali, setelah kitab-kitabnya dirampas oleh
perampok, ia memilih untuk menghafal seluruh catatan belajarnya selama tiga
tahun demi menjaga ilmunya.
Kita juga mengenal Imam Syafi’i yang sejak kecil telah
menghafal Al-Qur’an dan melanjutkan dengan menghafal Al-Muwaththa’,
karya gurunya Imam Malik. Dari mereka, kita belajar bahwa ilmu bukan sekadar
dicari, melainkan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Namun ketika kita menoleh pada sebagian santri masa
kini, bayangan tradisi keilmuan para ulama itu tampak seperti
fatamorgana—nampak indah, tapi tidak benar-benar dijalani. Ia hanya tinggal
sebagai diksi dalam pidato dan tulisan, tapi belum benar-benar diadopsi menjadi
bagian dari kehidupan.
Kita sebagai santri, pencari
ilmu agama sekaligus pewaris ulama, kini
banyak yang kehilangan fokus terhadap tujuan mulia itu. Masalahnya bukan hanya
soal disiplin atau semangat yang memudar, tapi cara pandang dan kebiasaan
hidup yang perlahan menggerus kesungguhan kita.
Banyak di antara kita yang terjebak dalam kenyamanan,
merasa cukup dengan ilmu instan yang mudah diakses, tanpa mau bersusah payah
menekuni prosesnya. Inilah akar dari kemunduran semangat belajar.
Menurut saya, kendala utama yang dihadapi santri hari
ini bukan berasal dari dalam diri (faktor internal), melainkan dari luar
(faktor eksternal) yang begitu kuat memengaruhi. Dan salah satu yang
memberi dampak besar adalah media sosial.
Media sosial, yang hadir dalam layar kecil di
genggaman, seolah menjadi jendela dunia baru. Di satu sisi, ia bisa menjadi
sumber wawasan yang mudah diakses. Namun di sisi lain, ia juga menjadi celah
yang dapat menjerumuskan kita ke jurang kelalaian.
Realitanya, media sosial kini bukan lagi sekadar
hiburan atau alat komunikasi. Ia telah menjelma menjadi ruang hidup baru yang
tanpa disadari memengaruhi cara berpikir, merasa, bahkan belajar dan secara halus
menurunkan kualitas diri kita.
Ironisnya, kita yang diharapkan menjadi calon ulama
justru mulai tenggelam dalam ruang digital. Waktu belajar tergeser oleh scroll
tanpa batas. Tradisi mengaji dikalahkan oleh kebiasaan mengisi kolom komentar
dan saling berkirim pesan.
Generasi yang seharusnya tumbuh dengan semangat Tafaqquh
Fiddin, kini malah sibuk menjadi konten kreator dengan dalih berdakwah,
padahal tak sedikit pun bekal keilmuan dibawa. Mencari ilmu seolah hanya
formalitas, sementara tujuan utamanya adalah mengejar popularitas. Semua ini bisa dilihat dari kevalidan ilmu
yang disampaikan.
Bahkan tak jarang, kita yang seharusnya menjaga adab
dan ilmu malah sibuk mengejar tren joget-joget yang dangkal. Sebuah kebiasaan
yang begitu jauh dari jejak para pendahulu kita. Inilah wajah kemerosotan yang
menyedihkan: dari calon ulama, menjadi calon ‘alamak!
Di tengah realitas ini, langkah yang perlu kita ambil
bukan hanya introspeksi, tapi juga membangun lingkungan yang mendukung semangat
belajar. Kita perlu membentuk relasi yang memperkuat arah perjuangan. Sebab
masa depan ilmu Islam bergantung pada kita hari ini yang sedang belajar, atau seharusnya belajar.
Oleh : Imam Thobroni
0 Komentar